Kita yang Memperumit Masalah Sendiri

Aku sudah lengkap dengan jas hujan, bahkan celana jeans panjang sudah digulung. Langit sore waktu itu lebih kelabu dari pasangan LDR (Long Distance Relationship) yang udah kangen karena lama gak ketemu tapi pas ketemu malah diputusin. Aku melaju melanjutkan perjalanan sambil senyam-senyum karena kali ini mengalahkan siapnya seorang ojek payung dalam mengantisipasi terpaan air yang bakal turun dari langit.

Tujuh menit, 15 menit, setengah jam berlalu. Hujan tak kunjung datang. Aku sedikit manyun, kemudian menepi ke sebuah halte untuk melepas dan melipat jas hujan yang aku kenakan. Pada saat aku hendak memasukkan jas hujan yang sudah terlipat rapi ke bawah jok motor, terdengar dua remaja yang mengeluhkan cuaca hari itu. “Langitnya PHP nih,” ujar salah satu dari mereka.

“Dem. Gue kegeeran.” Perjalanan sore itu selanjutnya aku habiskan dengan berpikir. Coba kalau tadi aku nggak mengharapkan hujan. Coba kalau aku tadi nggak sotoy sama langit. Coba kalau tadi aku gak dengan cepat menyimpulkan bahwa mendung berarti akan turun hujan.

Hal seperti di atas memang kedengarannya rada-rada benar. Kita lebih suka menyalahkan keadaan yang memang nggak pasti, dibanding menyalahkan otak (atau mungkin hati) yang sotoy menyimpulkan yang pasti terjadi. Misalnya seperti ketika ada orang yang hadir dalam hidup kamu. Dia datang dengan segala kelengkapannya, mengisi kekosongan-kekosongan yang kebetulan kamu inginkan, selalu ada buat kamu, dan kebetulan pula teman-temanmu menyangka kalian sudah jadian. Namun semua fakta tadi tetap gak bisa buat menyimpulkan bahwa dia pasti suka sama kamu.

Pengharapan itu membebankan.

Ketika kamu berharap, kamu membebankan suatu hal yang tidak pasti pada hati. Dan tau apa yang terasa kalau itu tak terjadi? Kecewa hati.

Kadang menyimpulkan seperti tadi cuma penyangkalan diri aja. Sebenernya kamu yang suka dia, karena deket. Di sisi lain, kamu juga gak siap menerima fakta kalau perasaan kamu gak berbalas. Dari situ kamu menyangkal.

Kejadian kayak gini sih biasanya disebut PHP (Pemberian Harapan Palsu). Nah, coba dipikir lagi. Siapa yang sebenarnya melakukan PHP? Dia, atau diri kamu sendiri yang memberikan harapan pada hati dengan menerjemahkan kebaikan adalah harapan?

Anggap saja memang benar kamu nggak kegeeran, dan memang benar dia PHP. Kalo keadaannya seperti itu, emang apa yang bisa kamu lakukan? Minta kepastian? Atau langsung pergi sekalian? Tanya diri kamu kalimat ini, “Emang bisa? Emang berani?”

Sebenarnya dengan kamu berdiam diri, kamu udah mengizinkan dia dan diri kamu sendiri jadi PHP. Pemberi, dan Penikmat Harapan Palsu.

PHP itu emang jodoh banget sama yang diem dan gak berani ngambil sikap (entah itu nagih kepastian, atau pergi sekalian). Semakin kamu diam, semakin betah dia PHP.

Kita abaikan orang yang PHP, karena apa yang dilakukannya itu emang jahat buat kamu. Tapi yang perlu diperhatikan, kenapa kamu diem aja dijahatin? Banyak alasan yang dikeluarkan orang yang nggak mau nagih kepastian. Biasanya alasannya karena cewek, gengsi, malu, takut disangka kegeeran.

Sering kali, manusialah yang memperumit masalahnya sendiri.

Tinggal pilih, jadi korban PHP terus, nagih kepastian, atau pergi sekalian. Jangan salahin dia PHP terus kalo minta kepastian atau pergi sekalian aja gak berani.

0 komentar:

Poskan Komentar