Tampilkan posting dengan label Pribadi. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Pribadi. Tampilkan semua posting

Aku Mau Pulang

Foto: spesial
Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble. Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh, bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi.
Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana?
Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis, semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama.
Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna, selalu ada tetesan-tetesan air mata keluar dari atapnya. Tapi juga banyak suara semilir gelak tawa dari jendelanya yang rapuh sesekali melewati sela antara daun telinga. Namun aku tak ingin meninggalkannya, aku tak akan meninggalkannya tanpa kamu. Aku tak ingin rumah yang baru. Yang aku ingin hanya rumah ini, bersama kamu.
Kamu, kembalilah ke rumah. Tak inginkah kamu pulang? Aku mau pulang.

Di Persimpangan, Obati Luka

Foto: wallpoper
Aku terduduk di sini. Di persimpangan jalan menjadi saksi kamu pergi. Sejak kamu pergi, dingin menyerang lagi. Namun kali ini bertemankan sepi.
Aku menyaksikan punggungmu perlahan menjauh. Meninggalkan aku dengan hati berjuta gaduh. Entah akankah kamu kembali berlabuh. Tepat di mana hatimu pernah terjatuh.
Aku tak bisa menjadi cahaya. Dalam setiap langkahmu yang penuh lara. Hingga kamu akhirnya memilih dia. Tinggal aku berpeluh luka.
Aku hanya berangan. Menjadikanmu sejuta kenangan. Dalam hati yang penuh harapan. Lupakan aku? Jangan.
Kamu tak perlu meragu. Jika kelak kamu lupa aku. Aku masih di sini terbujur kaku. Obati luka satu persatu.

Surat Terakhir Seorang Aneh

Gambar: KodalineVEVO
Gambar: KodalineVEVO

Mungkin inginku terlalu sederhana.
Aku hanya ingin mendengar kamu yang mengetuk di depan pintu.
Aku hanya ingin sekali lagi melihat wajahmu, meski hanya dari balik jendela.
Aku cuma mau kamu, sosok yang nyata ketika aku membuka pintu.
Aku hanya ingin di depan tungku perapian, bersamamu ketika dingin menerpa.

Bisa saja mauku terlalu sempurna.
Menjadi orang yang kaupilih di antara sempurnanya sosok-sosok yang ada.
Menjadi orang yang kaupilih untuk kauambil hatinya, kemudian kaujaga.
Menjadi makhluk yang kaumau, untuk berbagi hidup selamanya.
Menjadi orang yang kaupilih dan menjadi orang paling beruntung di dunia.

Namun kenyataan terlalu berbeda.
Kamu mengisyaratkan ‘selamat tinggal’ terlalu dini.
Ada sedikit mati kurasakan di sini.
Hatiku sudah terlanjur kamu bawa pergi.
Semuanya sebelum aku berhasil ungkapkan aku ingin memiliki.

Dan kini, semuanya sudah terlalu jelas.
Ternyata aku hanya seorang aneh yang merindu pelangi senja.
Seonggok tak sempurna yang mendamba dewi fortuna.
Setitik hitam yang inginkan kilau cahaya.
Seretak gersang yang haus air surga.

Sadar diri. Mungkin aku harus pergi.

Dari Hati

Tuhan....

Bila masih ku diberi kesempatan

Izinkan aku untuk mencintainya

Namun....

Bila waktuku telah habis dengannya

Biarkan cinta ini

Hidup untuk....

Sekali ini saja~

Kata-Kata Basi Saat Putus

betrayal-breakup-enough-good-good-enough-Favim.com-138253

Sesuatu yang diakhiri, harusnya ya sudah diakhiri saja. Kalau masih ada embel-embelnya, berarti memang masih ada sesuatu. Entah itu masih ada permintaan maaf, masih ada alasan, atau masih ada permintaan lain yang pastinya, semuanya nggak masuk diakal dan terkesan diada-ada.
Mungkin diada-ada karena perasaan yang masih ada.
Misalnya pada saat putus. Biasanya, putus yang benar-benar tuntas, akan berhenti di kata putus, diterima keputusannya, sepakat, sudah. Kalau masih ada kalimat-kalimat yang menyusul, kemungkinan besar ada sesuatu yang lain selain dari sekadar menyudahi hubungan.

Dan itu biasanya berimbas pada sulitnya melupakan.

Saking seringnya kata-kata itu dipakai, akhirnya membuat kita semua jenuh, jengah, dan merasa itu semua basi. Inilah kata-kata basi itu…

1. Kamu Terlalu Baik Buat Aku

Kalau yang ini sih semuanya pasti udah tau ya. These words are full of sh*t.

2. Kamu Pasti Dapet yang Lebih Baik dari Aku

Kalimat seperti cuma pantas dibalas dengan satu kalimat, “Yeah, of course I will!”

Itu bagi orang normal. Namun pada kenyataannya, tetap saja banyak yang berhasil dibuat lemah dengan kalimat itu, dan akhirnya membuat urusan semakin panjang dengan mengucapakan, “Emang banyak yang lebih baik dari kamu, tapi aku maunya cuma kamu.”

Urusan semakin panjang karena si dia memang udah nggak mau sama kamu. Alhasil, kamu ditinggal move on duluan. Dan hingga kini, kamu masih di situ-situ aja, menanti dia yang nggak baik-baik amat itu.

3. Aku Nggak Pantes Buat Kamu

Kalimat inilah yang paling sering digunakan juara sandiwara sedunia. Playing victim, atau bermain sebagai korban adalah hobinya.

Dia membuat seolah-olah dialah yang salah, seolah-olah dia yang jadi korban, seolah-olah kalian berpisah bukan karena kamu membosankan. Padahal pada kenyataannya, ada dia yang lain yang lebih menyenangkan.

4. Tapi Kita Masih Bisa Jadi Temen Kan?

Kalimat ini (dan jika jawabannya “ya”) hanya berlaku pada malam ketika putus saja. Besoknya, lusa, seminggu kemudian, setahun, seumur hidup berikutnya, ketika ketemu malah seperti nggak pernah kenal.

5. Aku Nggak Mau Kamu Makin Sakit Karena Aku

Dia tau, dia sadar selama ini dia menyebabkan kesakitan pada diri kamu. Dia memutuskan pergi, benar. Tapi dengan berbicara seperti ini, dia cuma menambah kesakitan sebelum dihadirkannya puncak rasa sakit, yaitu benar-benar ditinggal pergi.

Seharusnya kalau selama ini dia menyebabkan sakit, berubahlah menjadi yang membawa kebahagiaan.

6. Ini Bukan Kamu, Ini Salah Aku

Dia meyakinkan kamu bahwa ini salahnya, supaya kamu tenang dan mau melepasnya… sehingga ia pun bisa tenang lepas darimu untuk mengejar yang lainnya.

7. Nggak Akan Ada Akhir yang Bahagia Untuk Kita

Ini basi. Tapi ini benar, senggaknya bagi mereka yang pernah menjalani cinta yang sama-sama sudah tau endingnya akan seperti apa, yang meski mereka perjuangkan setengah mati pun sudah diketahui akhirnya berpisah juga, yang semakin diperjuangkan akhirnya semakin menyakitkan.



Begitulah kata-kata basi yang sering dilontarkan ketika putus. Sebagian mungkin diucapkan dengan jujur, tapi hanya sebagian kecil. Kecil sekali.

Namun kita berhak tau, apa alasan sebenarnya dan mengapa harus ditutupi?

Sebagian besarnya hanya untuk menutupi dua alasan ini:
“Bosan” dan “Aku menemukan yang lebih baik.”

Hal-Hal Aneh yang Ternyata Bukan Kamu Sendiri yang Ngelakuin

Ketika sendiri, nggak jarang kita ngelakuin hal-hal aneh. Terus tiba-tiba mikir…

Home-Simpson-Thinking-Vector-Image

“Pernah nggak ya, orang lain ngelakuin hal aneh yang sama kayak aku?”

Terus pemikiran itu terus terngiang, sampai terbawa ke lingkungan-lingkungan yang kita datengin, seperti tongkrongan, sekolah/kampus, sampai tempat gaul di dunia maya juga, socmed.

Jadi tadi pagi, seperti biasa ritual sebelum mulai bekerja adalah… nyeduh kopi. Terus aku melakukan hal yang seperti biasa pula aku lakukan ketika menyeduh kopi, yaitu… memasukkan kopi lalu mencampurnya dengan air panas. Jelas, semua orang yang nyeduh kopi ya begitu. Setelah itu, aku mulai menggulung-gulung bungkus kopi kemasan yang aku seduh tadi. 

Setelah tergulung rapi, aku cemplungin itu bungkusnya, kemudian aduk-aduk kopinya. Lalu aku tersadar.

Orang lain gini juga nggak ya kalau nyeduh kopi?
 
Embedded image permalink


Wahahaha, ternyata banyak juga yang pernah, sering, bahkan selalu kayak gitu, terutama yang udah pernah ngerasain jadi anak kos, atau yang nggak pernah ngekos tapi kelewat males buat ngambil dan nyuci sendok.

Dari situ aku mikir lagi, pasti ada lagi nih kegiatan-kegiatan aneh yang pernah kita lakuin waktu sendiri, yang ternyata dilakuin juga sama orang lain. Jadi, ternyata kita nggak sendiri guys!

Setelah mikir-mikir, nanya-nanya, dan nginget-nginet, beberapa kegiatan aneh yang sering dilakuin itu tuh ini…

Jelek-Jelekin Muka di Depan Cermin


Pasti pernah nih, biasanya abis mandi, berlama-lama di depan kaca, bukannya dandan tapi malah ngejelek-jelekin muka di depan cermin.


anne-hathaway-mirror-flirting-playing-with-eyebrows

Berbohong Pada Diri Sendiri Tentang Badan

Nggak cewek nggak cowok, kelakuannya sama aja.

Screen Shot 2014-09-02 at 11.47.09 AM

Megang yang Bau Terus Dicium

Masih seputar habis mandi. Biasanya suka periksa-periksa bagian-bagian tertentu, ada yang gatel misalnya, atau sekadar nyabut rambut di bagian itu. Bagian yang bau. Eh, anehnya, abis berinteraksi dengan bagian itu, udah tau bau, malah dicium.


tumblr_lwhlshawgl1qicu1q

Teleponan Sambil Jalan-Jalan Nggak Jelas

Namanya juga teleponan sama pacar dan gebetan ya, biasanya lamaaaaa banget. Bahkan sampe batre handphone abis. Anehnya, teleponannya sambil jalan-jalan nggak jelas.

anigif_enhanced-buzz-5240-1381333389-6

Kalau teleponannya sambil tiduran, ya berarti guling-gulingan nggak jelas.

Nggak Pake Celana

enhanced-buzz-3258-1381333661-21

Rumah sepi, atau pas tidur malem, gerah, kamar dikunci, lepas celana dah pake kolor doang.

Masang Shuffle di Music Player, Tapi Ngeskip Terus Sampe Dapet Lagu yang Pengen Didenger

anigif_enhanced-buzz-529-1381334155-6

Terus buat apa di-shuffle kalo gitu?! -_-

Pas Ngobrol Udah Dapet Apa Maksudnya, Cuma Nggak Dapet Cara Buat Ngomongnya

anigif_enhanced-buzz-549-1381334173-5

Ujungnya jadi pake “anu”, atau “yaaa itu lah pokoknya”.

Hahaha, banyak juga ya? Tapi gue rasa itu belum semua. Kira-kira apa lagi ya hal aneh yang pernah dirasain tapi ternyata itu dialamin sama orang lain juga? Share yuk di comments!

Engkau Pergi Bersama Mimpi

Foto: banksy


Tak lupakah kamu dengan apa yang sudah kamu lakukan?

Kamu datang seperti duri, lalu pergi seperti mimpi. Tanpa diminta. Namun ketika aku sedang benar-benar menginginkannya, kamu hanya memberi ruang hampa. Apa yang kamu lakukan ini, semata cinta, atau hanya permainkan rasa?

Jangan buang waktumu dengan membuang-buang waktuku. Jika tak ingin miliki hati, jangan bawa pergi bahkan berlari dan tak kembali. Kembalikan hati itu ke tempat semula jika kamu memang tak berminat lipurkan lara.

Aku menghela napas.

Baik. Aku biarkan kamu pergi bawa hatiku. Tapi beri tahu aku, siapa sebenarnya yang membawa hatimu, hingga kamu tak memilikinya sama sekali untukku?

Masih Tentang Jarak


Via Tumblr

Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan kita berjauhan. Tetapi aku lebih tidak mengerti lagi mengapa dan bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita. Semua ini memiliki alasan.

Namun ketika aku berusaha mencari apa maksud dari ini semua, aku terhalang oleh jarak. Seperti para biksu dan guru pada setiap film kolosal, seperti Chinmi dari serial manga Kung Fu Boy yang berguru untuk membelah bulan di air, aku justru menjadikan jarak adalah guruku. Guru kehidupan, guru spiritual, guru seni.

Terkadang kita hanya harus berhenti melawan untuk menang.

Jarak Mengajari Kita Percaya

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan selalu bertemu tapi tidak adanya rasa percaya.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan sering bertemu tapi selalu sibuk sendiri-sendiri.

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan berdekatan tapi tak ada yang memprioritaskan satu sama lain.

Sesungguhnya jarak yang hitungannya kilometer bukanlah apa-apa jika cinta kamu dan dia itu forever.

Jarak Mengajari Kita Sabar

Via Tumblr

Hanya memiliki waktu yang singkat untuk bertemu, lalu mesti menunggu lama untuk bersua lagi. Kurang pelajaran sabar apa lagi aku?

Ketika ada percikan-percikan pertengkaran kecil, kita terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk bersabar. Tak apa, itu latihan. Dengan begitu, kesabaran akan melingkupi kita dan bisa lebih mengerti kesabaran.

Jarak Mengajari Kita Waktu

Dengan jarak, kita jadi semakin tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mesti ada banyak hal yang dikorbankan. Bukan hanya materi dan tenaga, tetapi juga waktu. Semuanya harus diatur sebelum waktu bertemu tiba. Saat-saat mengatur itulah, kedawasaan ditempa.

Via deviantart

Dengan Jarak, Kita Bisa Melihat Lebih Jelas

Coba dekatkan suatu objek sampai sedekat mungkin dengan mata, apakah kamu bisa melihat sesuatu?

Kita butuh jarak untuk bisa melihat.
Dengan jarak, kamu bisa melihat apakah seseorang benar-benar mencintai kamu atau tidak.
 Kalimat itu sangat sederhana, namun pikirkanlah. Ada banyak makna di dalamnya.

Jarak Mengajari Kita Mengalahkan Musuh yang Lebih Nyata

Ego.

Menang atau kalahnya suatu hubungan, dapat dilihat dari apakah bisa meruntuhkan ego masing-masing.

Jarak Mengajari Kita Usaha Jauh Lebih Besar Dari Sekadar Bicara

Via Tumble
 
Jarak membedakan mana orang yang sekadar bicara, dan mana yang perbuatannya nyata.

Jarak Mengajari Kita Untuk Saling Menemukan

Via Tumblr

Via Tumblr
 
Dan mengapa jarak begitu mengajari kita banyak hal. Semua ini pasti memiliki alasan. Aku yakin alasannya adalah, kita.

About Promise

Foto: Tumblr

Entah kenapa, aku rasa makin ke sini makin banyak orang yang menganggap janji itu sepele, janji bukan lagi sesuatu yang sakral, dan janji nggak lagi sakti.

Nggak tau pasti apa penyebabnya. Apakah karena terlalu banyak orang berjanji lalu nggak ditepati, atau terlalu banyak yang berjanji tapi menepatinya secara diam-diam. Tapi satu hal yang aku sadari, janji adalah sesuatu yang nggak bisa keluar begitu aja, khususnya bagi laki-laki.

Janji itu kayak jokes. Semakin sering dikeluarkan, semakin berkurang kekuatannya, dan semakin muaklah orang yang mendengarnya. Makanya, semakin banyak janji, justru semakin meragukan.

Berkurangnya kesakralan janji ini semakin terlihat ketika seleb-seleb di TV seenak jidat bisa nikah dan cerai, sampai ditambah ngemeng-ngemeng para pejabat yang bilang “TIDAK!” tapi nyatanya korupsi juga.
Kita terlalu lelah dengan janji yang diingkari.
Materai. Aku menganalisis kenapa benda itu diciptakan, hasilnya bahwa ternyata memang sejak dulu selalu ada orang nggak jujur, makanya harus tanda tangan dan perjanjian diatur sama hukum. Kalau semua orang jujur nggak butuh tuh tanda tangan di atas materai. Namun materai itu memang ngebantu banget sih buat ngejaga orang-orang yang berpotensi bohong, sehingga mereka jadi lebih menghormati janji sebagaimana mestinya.

Manusia diciptakan untuk bisa berpikir. Ini bukti hasil-hasil pemikiran brilian manusia untuk memecahkan masalah sehari-hari: Ketika pegel nulis, manusia menciptakan alat ketik. Ketika bosan ngetik dengan tulisan biasa, manusia menciptakan tulisan alay dengan memadukan huruf-angka-simbol. Ketika jenuh dengan kali, manusia menciptakan keleusss. Manusia memang inovatif.
 
Yak, pasti banyak anak muda jaman sekarang yang bersyukur banget ada orang yang udah ciptain fitur screen capture. Bagi anak-anak jaman sekarang, screen capture diperlakukan buat mengamankan bukti. Dengan kata lain, seringnya, suatu chat di-capture bukan cuma buat kenangan, tapi buat bukti kalo sewaktu-waktu dia berubah pikiran atau lupa atau sengaja lupa.

Cuma masalahnya capture-an yang tadinya buat bukti dan buat nagih semua
janji-janjigombalan dia kadang nggak cukup ngembaliin dia yang perasaannya udah bener-bener berubah.

Hasilnya, semua file itu cuma jadi kenangan. Dan mentang-mentang namanya “kenangan,” jadi kerjaannya tiap hari dikenang terus, dipiara, dan ujung-ujungnya bikin susah move on, tapi orangnya udah kepalang pergi. Salah sendiri.

Gambar: Tumblr


Sebenernya dalam perihal orang yang berjanji untuk tinggal tapi nyatanya pergi, ada dua hal yang sangat pelik:

1) Merelakan

2) Ketika hampir bisa merelakan, seringnya yang pergi malah datang lagi

Nah, yang kayak gini nih yang bikin asdfghjkl banget. Rasanya pengen banget teriak,
“Kalo mau pergi, pergi aja! Tapi jangan balik lagi! Apalagi di saat udah hampir lupa.”

Pelajaran yang udah pernah aku alami dan amati tentang janji ini, aku simpulkan jadi sebuah tulisan yang intinya adalah… Sebuah janji atau apa pun yang belum terbukti, membutuhkan satu faktor penting yaitu waktu.

Dan sebelum menutup tulisan ini, untuk semua yang pernah punya janji, pegang dengan kuat kata-kata ini setiap sebelum tidur, khususnya untuk laki-laki. Seperti yang ayah pernah bilang, laki-laki sejati adalah yang bisa memegang janji.

Gambar: Tumblr

Sekarang, Aku Sadar

Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu.

Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”.

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di ‘rumah’, yaitu di matamu –tempat aku menemukan keteduhan.

IMG_6896 copy

Baru aku sadar, sedetik setelah pergi, manusia bisa rindu orang yang baru ia temuinya lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Ketika di sampingmulah aku merasa tidak perlu ada lagi yang mesti aku khawatirkan di dunia ini. Karena ketika bersamamu, aku lengkap. Dan ketika denganmu, aku tahu harus bersama siapa harus menghabiskan sisa hidup.

Aku sangat bersyukur dengan semua mimpi yang selama ini berhasil aku raih. Namun jika tanpamu, aku seperti tak sedang menjalani mimpiku. Kamu mimpi terindah yang ingin kujadikan nyata. Sebagian orang berkata tidak ada yang sempurna. Tapi bagiku, kamu sempurna. Lebih dari itu, kamu menyempurnakan aku.
Karena kamu membuat aku merasa cukup.
Aku tidak memilihmu. Kamu tidak memilihku. Namun hidup memilih kita.

Sampai aku bertemu kamu.

Aku sadar selamat tinggal ini hanya sementara. Kelak semua akan diakhiri peluk erat dan dekap hangat. Kali ini, setidaknya untuk sementara ini, aku minta kamu peluk aku dengan doa. Dan biarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpi kita. Untuk hidup di bawah atap yang sama, makan masakan yang sama, berbagi selimut yang sama. Hidup bersama dalam bahagia yang halal, dan kekal. Aamiiin.

Alasan Orang BERTAHAN






Pernah nggak kamu bertanya, “Kenapa aku bertahan sampai segininya?” Padahal keadaan tidak memungkinkan lagi, mustahil buat bersama.

Kadang, seseorang tidak tau alasan mereka bertahan sejauh itu dan melampaui batasnya.

Ketika seseorang suka sama orang lain, dia pasti akan mencari tau banyak tentang orang itu. Gimana kabarnya dia, latar belakangnya, kebiasaannya. Kemudian dia akan menyesuaikan informasi-informasi tentang dia yang disuka dengan kebiasaan yang selama ini dia pegang. Bahkan beberapa orang ada yang memaksakan dan rela mengalah demi menyesuaikan kebiasaan dengan orang yang disukai itu. Contoh sederhananya adalah kalo kamu suka sama orang lain, maka apa yang menjadi kesukaannya adalah kesukaan kamu juga. Misalnya ketika kamu suka  orang dan orang itu suka klub bola tertentu, kamu bakal suka (atau mau gak mau mencoba) suka sama klub bola yang sama dengan dia.

Itu namanya pengorbanan. Kemudian kondisi-kondisi yang sama tadi diartikan sebagai ‘kecocokan’ supaya dia mau sama kamu. Kemudian pada kasus beberapa orang yang beruntung tidak dapat penolakan, hubungan itu diteruskan ke pacaran. Pada masa itu, bukan berarti semuanya sudah cocok dan baik-baik aja. Selalu ada berantem atau semacamnya karena adanya ketidaksesuaian. Tapi bagi yang bisa mengelola keadaan dan berhasil melewatinya, bakal jadi ‘pelajaran penyesuaian’ diri satu dengan yang lain.

Semakin lama, semakin banyak ‘pelajaran’ yang dilewati. Semakin mengerti satu sama lain. Dan ketika semua ketidaksesuaian tidak bisa lagi ditolerir, di sinilah semuanya berawal. Ada dilema datang, mau udahan, atau bertahan.

Dan seperti yang aku bilang tadi di atas, ada yang memutuskan untuk bertahan tapi tidak tau alasan pastinya. Mungkin sebenarnya mereka bukan tidak tau, cuma bingung yang mana karena alasan itu terlalu banyak atau terlalu samar. Kemudian berpikir semua ketulusan yang dilakukan adalah sebuah kebodohan.

Yang pasti, alasan mereka untuk bertahan gak akan jauh-jauh dari…

Pengorbanan. Semua pengorbanan yang dulu dilakuin semata-mata biar kamu sesuai sama dia, tidak mungkin dilepasin gitu aja. Pengorbanan itu berubah menjadi kebiasaan dan ketika waktunya sudah terlewat, menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Ketika hendak menyerah, ingatlah apa yang sudah kamu lakukan sampai sejauh ini.
Keengganan memulai dengan yang baru. Memulai lagi, dari awal lagi, menyesuaikan lagi, berkorban lagi. Beberapa orang terlalu malas, atau terlalu takut melakukan hal ini.
Memulai itu tidak pernah mudah.
Tidak tergantikan. Orang yang bertahan sampai sebegitunya tidak mungkin rasanya kalo buat orang yang biasa-biasa saja.
Mungkin banyak yang lebih baik dari dia, tapi yang sama kayak dia, tidak akan ada.
Alasan terakhir. Katanya, ketika kamu jatuh cinta dengan sangat kepada seseorang, kamu tidak akan tau kenapa. Mungkin alasan itu akhirnya berhasil ditemukan. Sebuah kata sederhana yang diterapkan dengan rumit, “Sayang”.



Lalu gimana dengan kamu? Perasaan kamu itu stuck, atau sayang? Kamu itu tulus atau bodoh?

Untuk Mereka yang Takut Kehilangan

Aku pernah ngomong, “Sesuatu yang harusnya keluar harus dikeluarkan. Kalau nggak, bisa bikin gelisah.”

Itu pula yang mendasari ku untuk membuat postingan kali ini. Ada yang pengen aku share ke kalian. Yang intinya adalah tentang… perasaan.

Aku mulai dengan pacaran.

Pacaran itu sesuatu yang indah, sesuatu yang seru, sesuatu yang… bisa ngisi hari-hari. Tapi ketika semuanya berjalan seiring waktu, ada perasaan baru -dan berbahaya- yang timbul, yaitu takut kehilangan.

ae003__tumblr_mdk6l9AjNK1qjck12o1_500


Rasa takut kehilangan itu membebankan.

Semakin indah, semakin baik, semakin sempurna seseorang di mata kamu, maka semakin takut kehilangan kamu akan dia. Rasa takut kehilangan ini kadang memunculkan tindakan-tindakan irasional. Misalnya dalam pacaran, rasa takut kehilangan seringkali jadi dalang timbulnya cemburu buta. Tidak pernah rela sedikit pun ngeliat dia kenal sama seseorang yang punya kelebihan dibanding kita.

Sebagai contoh kalau kamu pacaran sama seorang yang suka voli, tapi kamu gak jago main voli, terus pacarmu punya kenalan anak jago voli dan keren. Kamu bisa cemburu kalau tau dia deket sama orang tadi, meski hanya sebagai teman.

Rasa takut kehilangan. Ada “rasa” pada frase tadi. Sesuatu yang berasal dari perasaan seringkali melumpuhkan pikiran. Kamu gak akan bisa berpikir jernih kalau rasa takut kehilangan mengendalikan. Kamu akan melakukan apa pun, entah itu mengubah diri dan berusaha membuat diri menjadi sempurna, atau mengubah dia. Intinya biar dia gak pergi, bahkan gak jauh dari kamu. Hasilnya… dia bisa aja gak nyaman dengan perlakuan itu.

Ketika rasa takut kehilangan menyetirmu dengan segala tindakan gak logisnya, dia semakin gak nyaman, dan akhirnya benar-benar pergi.

Rasa takut kehilangan seringkali malah jadi kenyataan.

Banyak orang yang akhirnya berpisah sama orang-orang yang dia sayang cuma karena rasa takut kehilangan. Tapi ketika sendiri pun, rasa itu bisa datang lagi dan menghantui.

Takut kehilangan padahal memiliki saja belum. Hal ini sering banget terjadi pada mereka yang jatuh cinta diam-diam, mengagumi dalam bisu. Belum memiliki, bahkan kenal pun belum, tapi sudah berpikir terlalu jauh. Ujung-ujungnya… nyesek sendiri.

Bahkan pada tahap paling awal dua orang bertemu pun, rasa takut kehilangan bisa muncul. Misalnya pas sebelum kenalan, sering banget seseorang mikir, “Gimana nanti kalo dia gak mau? Terus kalo dia mau tapi gak bisa berlanjut dengan baik gimana? Aku harus mulai dari mana? Aku mesti gimana?”
Dari situ aja, bisa diliat kalau seseorang yang bahkan belum kenal pun bisa takut kehilangan.
Pada akhirnya aku menyadari bahwa rasa takut kehilangan bukan ada karena kita memiliki. Tapi tumbuh bersama-sama dengan harapan untuk memiliki.

Dan semua diawali dengan terlalu berharap.

Mereka yang baik dalam menjaga hatinya adalah mereka yang berhasil mengendalikan harapan-harapan dalam dirinya.

Surat Rindu yang Tak Perlu Dibalas



Bagaimana mungkin pria dan wanita, dua makhluk yang saling bingung karena sifat lawan jenis masing-masing, bisa jatuh cinta?

Bagaimana mungkin pria dan wanita, yang konon berasal dari planet yang berjauhan, yaitu dari Mars dan Venus, bisa saling merindukan padahal sama-sama sedang berada di bumi?

Ah, pertanyaan klise itu memuakkan, memekakkan telinga. Namun apa yang lebih lumrah dari kalimat “aku rindu kamu”? Rindu yang tak berbalas. Setidaknya begitu bagiku.

Semua hal memang tak harus tersurat, tapi tak semua manusia memiliki kepekaan tinggi terhadap yang tersirat. Mulut-mulut itu berucap, “Tenang saja, dia juga pasti merindukanmu.”

Mungkin. Mungkin. Mungkin.

Cuma kata itu yang terus-terusan dimentahkan pikiran melalui mulutku.

Berpikir positif. Ah, sudah. Sejak awal hingga kini aku berpikir positif. Aku menanamkan kalimat “kamu juga rindu aku” dalam benak. Namun benakku tidak cukup bodoh untuk tidak meminta bukti.

Kepada semesta, aku meminta bukti sebagai alasan aku bisa tetap terus rela benih kalimat positif tersebut tertanam dalam benak.

Entah aku yang kurang peka membaca sinyal rindu yang kamu beri, atau memang kamu yang belum mengirimnya sama sekali.

Rindu yang tak berbalas membuatku terlihat gila, atau aku memang benar-benar sudah gila. Bahkan ketika seseorang yang memang dikenal lucu melucu di depan banyak orang, membuat orang-orang terbahak-bahak, tetapi tetap saja wajah dan tatapanku seperti hasil persilangan antara layar televisi, kulkas, dan dompetku. Datar, dingin, dan kosong.

Rindu yang tak berbalas itu seperti lubang hitam. Menyedot habis semua senyum, tawa, dan canda yang aku punya.

Kita duduk berdekatan, tapi kita sendiri-sendiri.

Sayang, surat ini tak perlu dibalas. Tetapi balaslah rinduku, maka aku akan tetap waras.

Surat Singkat dari Laki-Laki

Memangnya kenapa kalau memulai duluan? Takut disangka murahan? Harusnya kami saja kamu sebut murahan jika semurah itu melabeli seorang perempuan “murahan.”

Memangnya kenapa kalau menunjukkan suka lewat perhatian? Takut disangka gampang? Pemikiran “takut disangka gampang”-mu itu justru yang mempersulit keadaan.

Kami sudah kehabisan waktu. Kami, yang mulai beranjak dewasa –karena diharapkan dan dibutuhkan untuk dewasa di depan perempuan yang kamu sukai– mulai muak dengan semua ini.

Kami lelah ketika kamu menuhankan gengsi. Pembenaran-pembenaran “supaya nggak terkesan gampang,” “supaya nggak dianggap murah,” “supaya bikin penasaran” itu semakin ke sini sepertinya semakin terasa dipaksakan dan dijadikan ‘makanan’ bagi momok menakutkan bernama “gengsi.”

Mungkin untuk awal-awal kenal dan awal dekat, semuanya masih bisa dimaklumi, semuanya masih indah, dan masih menimbulkan percikan-percikan kasmaran. Ketika waktunya sudah cukup lama untuk sebuah pendekatan, kami butuh tau. Iya, kami butuh tau apakah perempuan yang sedang kami dekati punya perasaan yang sama atau tidak. Oke, kami hargai prinsip “cewek nggak boleh ngomong duluan.” Tapi kalau tidak ingin bicara, setidaknya tolonglah tunjukkan.

Mungkin perempuan yang sedang kami dekati sudah tidak aneh menemukan seorang laki-laki berusaha untuk mendapatkannya. Dalam beberapa kondisi, kami, laki-laki, seringkali habis-habisan dalam mengejar perempuan. Iya, kami kerahkan semua. Waktu, tenaga, pikiran, semuanya. Namun kami cuma butuh satu: alasan.

Kami butuh alasan untuk terus berjuang. Mungkin kalimat “cinta nggak butuh alasan” dari film-film sudah begitu terpatri dan menjadi panutan itu hal paling romantis. Tapi tidak bagi kami. Perlu diketahui, kami laki-laki terlalu sering bepikir menggunakan logika. Kami butuh alasan untuk terus maju, untuk memberikan segala yang kami punya, untuk tetap melakukan hal-hal gila demi melihat seseorang bahagia. Alasan itu sesederhana tahu bahwa apa yang kami lakukan tidak sia-sia, bahwa perempuan yang kami sukai punya perasaan yang sama.

Maaf, kami tidak bisa seperti tokoh utama di film-film drama yang menjunjung tinggi “cinta harus tanpa pamrih” dan “cinta nggak harus memiliki.” Kami hidup di kehidupan nyata, dan kami juga ingin disayangi. Ketika kami sudah melakukan banyak hal, memberikan segalanya, jujur, dalam hati yang paling dalam kami ingin mendapatkan, atau minimal melihat hasil dari apa yang sudah kami kerahkan. Sekecil perhatian dan usaha menunjukkan perasaan suka juga dari perempuan yang kami dekati.

Karena apa? Kami tidak ingin tua dan mati mengejar-ngejar perempuan yang tidak mengasihi kembali. Kami, mungkin juga manusia lainnya, butuh disayang juga. Sering kali, kami pada akhirnya memilih pergi setelah semuanya sudah kami lakukan lalu tidak membuahkan hasil apa-apa. Tidak kunjung ada tanda-tanda bahwa perempuan yang kami sukai juga menyukai kami. Kami tidak ingin mati konyol. Lebih dari itu, kami tidak ingin hidup bodoh.

Namun anehnya, seringkali ketika kami sudah memilih pergi dan mencoba menuju orang yang baru, perempuan yang tadinya kami sukai malah datang kembali. Alasannya: baru terasa berharga setelah pergi, atau sebenarnya suka juga tetapi terlalu manut kepada gengsi, atau bahkan salah satu dari 5 alasan di sini.

Kami sudah muak dengan itu.

Kehidupan terus maju. Kami terus menua. Ketika waktu itu tiba, ketika kami benar-benar serius, justru keinginan kami semakin sederhana. Sama sekali tidak rumit.

Kami ingin bersama mereka yang tidak rumit, mereka yang jika tidak sanggup bilang punya perasaan suka ya menunjukkan dengan perhatian, mereka yang ketika jadi pacar tidak gengsi untuk menghubungi duluan, mereka yang ketika jadi kekasih jika kangen ya bilang kangen. Persetan dengan “gak ada tantangan” lah, “kesannya gampang” lah. No, di satu titik dalam fase kehidupan kami yang seperti ini, kami ingin seseorang yang sederhana, karena kami sudah cukup dipusingkan dengan kehidupan, harus memusatkan pikiran dan tenaga untuk sesuatu yang penting juga: masa depan. Dan untuk siapa masa depan itu kami rencanakan, rancang, lalu kejar? Untuk bersama perempuan itu juga.
Untuk dicatat: gengsi tidak akan membuat kamu jadi lebih cantik.
Maka tolong, sederhanalah. Kami yakin dengan menjadi sedikit tidak rumit, itu akan baik untuk kita. Iya, kami dan kamu. Karena cinta harusnya saling memudahkan.

*disclaimer: ini belum tentu menjadi pemikiran semua laki-laki, tapi setidaknya ini menjadi pemikiran gue, dan syukurnya sampai saat ini gue masih laki-laki

*dan tidak semua perempuan juga seperti itu, bagi yang merasa saja

Boleh Aku Peluk Lagi?

Satu, saat udara tergerak bulir-bulir hujan, menghembuskan dirinya melewati sela jari dan telingamu. Sontak membuat bulu kudukmu berdiri. Di sana aku ada, menghangatkan.

Lagi, ketika kamu terlelap dalam malam penuh mimpi, entah tentangku atau bukan. Saat gerakan tubuhmu tak sengaja menjauhkan selimut. Namun aku dekat.

Lagi, waktu pertama kamu membuka mata, menghadap ke jendela, menyadari betapa aku tak begitu nyata. Embun pagi hampir ditonggakkan daunnya, pertanda hari segera datang. Aku di sana, menyejukkan.

Lagi, saat kamu pertama melangkahkan kakimu ke dalam rumah di ujung hari yang lelah. Tergeletak di sofa, tertidur bahkan belum sempat melepaskan sepasang kaos kaki warna pelangi kesayanganmu. Aku di sana membuat nyaman.

Lagi, ketika kamu memasuki tempatmu menghilangkan kelu kesah dengan raut sedihmu terhanyut alunan musik kesukaanmu. Aku disana, membantumu terlelap.

Selalu, ketika air matamu jatuh untuk kesekian kalinya, entah untukku atau bukan. Aku melingkari pundakmu. Semuanya hanya untuk hal sesederhana senyummu. Aku selalu ada, menenangkan.

Untuk Kamu yang Jauh


Ini hari kedelapan sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.

April boleh berlalu. Namun sebelum April yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.

Satu hal paling aku suka dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke rumah. Rumahku yang tanpa kamu.

Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalaku harus bergemeretak karena diri ini tak dapat menjangkaumu dalam dekap. 

Jarak.

Jarak ada untuk ditempuh. Bukan untuk dikeluh karena jauh.

Aku selalu percaya semua yang indah tak pernah bisa didapat dengan mudah. Semua yang berarti, menuntut untuk korbankan diri. Kita, pergi ke arah yang berlawanan, bukan untuk menjunjung sebuah perpisahan. Kita hanya sedang memantaskan. Kita harus mencoba mengarungi belantara sendiri. Menghadapi masalah yang rumit dengan kemampuan diri.

Bersamamu, segalanya terasa lebih mudah. Pasti.

Namun aku selalu ingat apa yang hidup ajarkan, yang selalu ayah katakan:

“Kita tak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau di waktu yang kita inginkan. Tuhan lebih tahu. Doamu bukan tidak dikabulkan, hanya saja digantikan dengan yang lebih indah, atau disimpan sampai waktu yang lebih indah.”

Aku selalu percaya waktu itu akan datang. Waktu di mana kita menghadapi kerasnya dunia bersama. Waktu di mana kita bisa menari di bawah hujan bukannya menunggu badai reda. Waktu di mana aku merasa baik-baik saja ketika genggam tanganmu ada.

Layaknya sebuah mutiara, aku harus menyelam lebih dalam untuk mendapatkan keindahannya. Maka aku mengerti. Selagi aku terus ditempa dunia, aku tetap harus menghadap ayahmu, mengajaknya bicara, mendekatinya. Karena apa? Aku harus sehebat, setenang, dan semengerti beliau dalam menghadapimu.

Karena jika aku tak sesayang ayahmu, aku tak layak untuk duduk berdua denganmu mengenakan tudung putih bersandingan, menjabat tangan beliau, mengucap nama kamu, mengambil alih tanggung jawabnya untuk membahagiakanmu.

Percayalah, aku sanggup.

Kita hanya perlu bersabar.

Ketahuilah satu hal. Jarak dan waktu antara kita besarnya tidak pernah melebihi rasa sayang yang ada.

Ada ‘Rumah’ di Matamu

Senangnya bisa kembali ke secarik kertas ini. Kertas digital yang selalu menjadi cawan yang kemudian kutuangi ide, cerita, atau sekadar curahan hati alam bawah sadar.

Terkadang, sebenarnya bukan terkadang, tapi selalu, aku selalu heran ketika suatu rencana yang dibuat manusia bisa hancur begitu saja oleh makhluk bernama ‘takdir’. Aku pernah mendengar sebuah pernyataan dari seorang dosen berbunyi ‘semua yang terjadi pada kita 80% adalah akibat perbuatan kita, 18% kondisi, dan 2% sisanya adalah takdir’. Jika dikaji lebih dalam, persentase tadi sebenarnya seimbang karena masing-masing pengaruh materi sesuai dengan kekuatannya. Biasanya kita baru memperhatikan komposisi ini ketika keadaan tak sesuai dengan yang kita inginkan. Dan ‘takdir’, sebagai persentase terkecil selalu menjadi kambing hitam paling empuk, jika kita sudah tak bisa lagi menyalahkan kondisi dan perbuatan kita sebagai persentase yang lebih besar.

“Nila setitik, rusak susu sebelanga,” peribahasa yang bisa aku ambil untuk masalah ini. Keburukan selalu lebih kuat dari kebaikan. Namun kebaikan selalu jadi pemenangnya, bukan?

Takdir, dengan persentase yang begitu rendah, bisa menjadi faktor kuat pengubah kejadian. Kita pasti menyadari itu ketika keadaan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bagaimana mungkin hanya dengan sedikit sentuhan takdir, rencana yang hampir sempurna sekali pun bisa porak-poranda? Itulah mengapa kubilang takdir itu kuat. Dengan pengaruhnya yang begitu besar, lalu, apakah kita bisa bilang takdir jahat? Jika tidak, mengapa pengaruhnya begitu besar seperti nila pada susu? Jika ya, bukankah seharusnya kebaikan yang jadi pemenangnya? Istilah ‘takdir’ diciptakan hanya agar manusia bisa menerima apa yang tak bisa dikehendakinya. Tepatnya, agar manusia punya sesuatu untuk disalahkan pada akhirnya jika kehendaknya tak terlaksana.

Takdir, juga yang mempertemukan kita, menghubungkan getaran-getaran yang pada awalnya tak terdeskripsikan, getaran yang seolah berkata “aku butuh kamu”. Hingga kita merumuskan rasa itu menjadi sebuah kebutuhan. Rasa butuh yang biasa orang sebut “sayang”. Pernah kita mengklaim diri kita tak akan berarti tanpa orang yang memenuhi kebutuhan kita. Namun pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang paling membutuhkan kita.

Sepasang kekasih tak mungkin lagi bisa bersama kalau di antara mereka sudah tak lagi saling membutuhkan. Memang terkesan ‘memanfaatkan’, tapi itu memang sifat dasar manusia, ingin kebutuhannya dipenuhi, yang ujung-ujungnya agar merasa bahagia.

Seseorang yang membutuhkan kita bukanlah orang yang memanfaatkan kita, karena memanfaatkan berarti mengambil keuntungan dari seseorang yang sebenarnya tak terlalu kita butuhkan. Ketika menemui seseorang yang membutuhkan kita, secara langsung atau tidak, kita akan membutuhkan mereka juga. Karena tak ada artinya kelebihan kalau tak ada tempat untuk menuangkannya, seperti cintaku yang berlebih ini, kepadamu.

Menemukan seseorang yang kita butuhkan itu seperti menemukan rumah yang selama ini kita cari saat kita tersesat, karena rumah adalah tempat yang paling kita butuhkan. Kita selalu merasa aman, nyaman, tenang ketika berada di rumah. “Rumahku istanaku” terbukti bukan ungkapan omong kosong.

Pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang ketika kita menatapnya, kita merasa seperti di rumah.

Everytime I look at you, I’m home :)

Dan itu bukan karena perbuatanku, kondisi, ataupun takdir, melainkan ketiganya.

Sebuah Lembaran



Halaman demi halaman aku tulis, bersama kamu. Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti. Atau aku mestinya cukup pahami. Namun cinta tak pernah sederhana.

Pena dengan tinta hitam kita ukir selengkung demi selengkung. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu.

Semuanya kita lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini, adalah hidup. Setidaknya bagiku. Aku sudah meninggalkan halaman usang di belakang. Aku berpegang sampai nyawa ini kuregang, kamu yang aku sayang.

Aku mencintamu, sangat mencintaimu. Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur. Kamu diam seribu bahasa, aku lelah menenun asa. Sekali lagi, cobalah mengerti? Atau mungkin sedikit saja pahami? Yang aku tulis dalam hati selalu kamu yang kucintai.

Pegang pena ini bersama, guratkan kisah kita.

Ah, maaf, cerpen kita maksudku. Nampaknya cerita ini terlalu singkat untuk disebut kisah.

I♡Y ALP ({})

Mungkin Benar Kata IBU

            Kata IBU, aku dulu anak yang selalu optimis, selalu gembira, selalu semangat, selalu yakin bahwa apa yang aku cita-citakan kelak akan jadi kenyataan. Walaupun aku dulu sering sakit-sakit an. Iya, mungkin semua itu benar. Aku selalu bilang dengan cerewetnya pada Ayah Ibu, “Ayah, Ibu. Aku nanti kalo udah gedhe pengen jadi seperti kakung, jadi Polisi.” dengan cengengesan dan berlagak seperti Polisi beneran. Kata Ibu, aku anaknya pendiam, pendiam banget. Terkadang sampai keluar rumah saja tidak mau. Tapi di balik sikap pendiam dan malu-malu ku itu, aku selalu ingin menjadi yang terbaik di antara teman-teman sepermainan. Tapi faktanya aku terlalu lemah untuk berangan-angan agar bisa menjadi yang terbaik di antara teman-teman. Kata Ibu juga, aku anak yang malas. Kata Ibu yang satu ini memang benar adanya. Aku terlalu malas untuk bangun di pagi hari, menyapu, cuci sepatu sendiri di hari minggu. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk berolahraga dan berimajinasi tentang apa yang akan aku cita-citakan nanti, tentang apa yang akan kuperoleh jika aku melakukan sesuatu. Terlalu sering aku melewati hari-hariku bersama Uti dan Kakung. Uti dan Kakung lah yang mengajari aku semuanya. Hari demi hari aku lewati, begitu banyak kenangan yang sampai sekarang tidak akan terlupakan. Mulai dari aku jatuh sakit dulu, sampai koma dan rasanya aku dulu berada di tempat paling indah, itu Surga mungkin. Tapi aku bertanya-tanya tentang tempat itu. Mengapa aku berada di tempat indah seperti ini sendirian? Dan tiba-tiba saja aku terbangun dari koma ku karena ada suara yang memanggil-manggil namaku. “Piyan, yan, piyan.. yan...” suara-suara itu disertai dengan tangisan. Ketika aku mulai buka mata ini, aku melihat sekelilingku, semua orang menangis entah apa yang mereka tangisi aku juga tidak tahu karena aku belum sadar sepenuhnya. Beberapa saat kemudian, entah mengapa mata ini tertutup dengan sendirinya. Dan setelah berhasil sadar dari koma itu, aku dirawat sampai sembuh dan kembali beraktifitas seperti biasanya. Ah, maaf jika cerita ku OOT (Out Of Topic).

Dan kini aku mulai menginjak masa remaja, dimana kata Ibu masa remaja ini masa-masa yang paling menyenangkan. Mulai kita bisa merasa menyukai lawan jenis, galau dan masih banyak lagi. Dan aku tidak sengaja curhat sama Ibu akhir-akhir ini. Mulai dari curhat tentang cita-cita ku dari kecil, Polisi, tentang kuliah ku, tentang pacar. Ah, nyaman rasanya kalau cerita sama Ibu itu. Ketika aku curhat tentang masa depanku, ibu tiba-tiba melontarkan kata-kata ini pada ku. “Tidak ada perempuan yang ingin mengulang hubungan yang baru dengan laki-laki yang baru lagi, belajar merasa nyaman lagi, memberikan pikiran dan jiwanya kepada lelaki baru lagi. Menceritakan rahasia, pemikiran dan emosi pada laki-laki baru. Bertemu dengan orang tua dan berharap bisa diterima seperti hubungan sebelumnya. Melawan isu dan percaya kepada laki-laki lagi. Memberikan hati dan belajar mencintai sepenuh hati lagi. Itu mengapa perempuan bertahan dengan laki-laki yang bersama mereka sekarang, tidak peduli seberapa buruk itu. Karena laki-laki yang bersama dia sekarang, telah melewati semua bersamanya. Jika perempuan itu sudah pernah bilang, aku sudah pernah ngerasain apa itu cinta pertama. Jangan pernah kamu menginginkan untuk dicintai sepenuhnya oleh perempuan itu. Kalau kamu ngerasa ada yang kurang dari perempuan itu, maklumi saja karena perempuan itu sudah pernah dilukai sama cinta pertamanya. Kalaupun memang perempuan itu cinta pertamamu, jaga dia terus. Apapun yang terjadi. Jangan pernah merasa lelah sekalipun perempuan itu kadang menyebalkan, terlalu egois. Kalau soal cita-cita sama kuliah kamu itu, aku serahkan semuanya pada kamu. Ibu dan Ayah hanya bisa memfasilitasi dalam mencapai cita-cita mu tersebut. Sekolah lah yang rajin, jangan malas seperti waktu kamu kecil dulu. Kamu sudah punya pacar lo, masak masih males-malesan.” Sambil tertawa kecil Ibu pun mengakhiri obrolan ku sama Ibu malam itu. Tiba-tiba gadget ku berbunyi "Kring..kring.."ternyata itu dari pacarku yang daritadi misscall-misscall terus. "Sudah malam, lha itu lo pacarmu udah nyariin kamu terus. Bobok, jangan lupa doa." kata Ibu.