Posts

Showing posts with the label Pribadi

Kamu Pengunjung Ke

Aku Mau Pulang

Image
Foto: spesial Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble. Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh, bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi. Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana? Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis, semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama. Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna, selalu ada tetesan-tetesan air mata kel…

Di Persimpangan, Obati Luka

Image
Foto: wallpoper Aku terduduk di sini. Di persimpangan jalan menjadi saksi kamu pergi. Sejak kamu pergi, dingin menyerang lagi. Namun kali ini bertemankan sepi. Aku menyaksikan punggungmu perlahan menjauh. Meninggalkan aku dengan hati berjuta gaduh. Entah akankah kamu kembali berlabuh. Tepat di mana hatimu pernah terjatuh. Aku tak bisa menjadi cahaya. Dalam setiap langkahmu yang penuh lara. Hingga kamu akhirnya memilih dia. Tinggal aku berpeluh luka. Aku hanya berangan. Menjadikanmu sejuta kenangan. Dalam hati yang penuh harapan. Lupakan aku? Jangan. Kamu tak perlu meragu. Jika kelak kamu lupa aku. Aku masih di sini terbujur kaku. Obati luka satu persatu.

Surat Terakhir Seorang Aneh

Image
Gambar: KodalineVEVO
Mungkin inginku terlalu sederhana. Aku hanya ingin mendengar kamu yang mengetuk di depan pintu. Aku hanya ingin sekali lagi melihat wajahmu, meski hanya dari balik jendela. Aku cuma mau kamu, sosok yang nyata ketika aku membuka pintu. Aku hanya ingin di depan tungku perapian, bersamamu ketika dingin menerpa.
Bisa saja mauku terlalu sempurna. Menjadi orang yang kaupilih di antara sempurnanya sosok-sosok yang ada. Menjadi orang yang kaupilih untuk kauambil hatinya, kemudian kaujaga. Menjadi makhluk yang kaumau, untuk berbagi hidup selamanya. Menjadi orang yang kaupilih dan menjadi orang paling beruntung di dunia.
Namun kenyataan terlalu berbeda. Kamu mengisyaratkan ‘selamat tinggal’ terlalu dini. Ada sedikit mati kurasakan di sini. Hatiku sudah terlanjur kamu bawa pergi. Semuanya sebelum aku berhasil ungkapkan aku ingin memiliki.
Dan kini, semuanya sudah terlalu jelas. Ternyata aku hanya seorang aneh yang merindu pelangi senja. Seonggok tak sempurna yang mendamba d…

Dari Hati

Tuhan....

Bila masih ku diberi kesempatan

Izinkan aku untuk mencintainya

Namun....

Bila waktuku telah habis dengannya

Biarkan cinta ini

Hidup untuk....

Sekali ini saja~

Kata-Kata Basi Saat Putus

Image
Sesuatu yang diakhiri, harusnya ya sudah diakhiri saja. Kalau masih ada embel-embelnya, berarti memang masih ada sesuatu. Entah itu masih ada permintaan maaf, masih ada alasan, atau masih ada permintaan lain yang pastinya, semuanya nggak masuk diakal dan terkesan diada-ada. Mungkin diada-ada karena perasaan yang masih ada. Misalnya pada saat putus. Biasanya, putus yang benar-benar tuntas, akan berhenti di kata putus, diterima keputusannya, sepakat, sudah. Kalau masih ada kalimat-kalimat yang menyusul, kemungkinan besar ada sesuatu yang lain selain dari sekadar menyudahi hubungan.
Dan itu biasanya berimbas pada sulitnya melupakan.

Saking seringnya kata-kata itu dipakai, akhirnya membuat kita semua jenuh, jengah, dan merasa itu semua basi. Inilah kata-kata basi itu…
1. Kamu Terlalu Baik Buat Aku

Kalau yang ini sih semuanya pasti udah tau ya. These words are full of sh*t.

2. Kamu Pasti Dapet yang Lebih Baik dari Aku

Kalimat seperti cuma pantas dibalas dengan satu kalimat, “Yeah, of…

Hal-Hal Aneh yang Ternyata Bukan Kamu Sendiri yang Ngelakuin

Image
Ketika sendiri, nggak jarang kita ngelakuin hal-hal aneh. Terus tiba-tiba mikir…



“Pernah nggak ya, orang lain ngelakuin hal aneh yang sama kayak aku?”
Terus pemikiran itu terus terngiang, sampai terbawa ke lingkungan-lingkungan yang kita datengin, seperti tongkrongan, sekolah/kampus, sampai tempat gaul di dunia maya juga, socmed.
Jadi tadi pagi, seperti biasa ritual sebelum mulai bekerja adalah… nyeduh kopi. Terus aku melakukan hal yang seperti biasa pula aku lakukan ketika menyeduh kopi, yaitu… memasukkan kopi lalu mencampurnya dengan air panas. Jelas, semua orang yang nyeduh kopi ya begitu. Setelah itu, aku mulai menggulung-gulung bungkus kopi kemasan yang aku seduh tadi. 
Setelah tergulung rapi, aku cemplungin itu bungkusnya, kemudian aduk-aduk kopinya. Lalu aku tersadar.
Orang lain gini juga nggak ya kalau nyeduh kopi?



Wahahaha, ternyata banyak juga yang pernah, sering, bahkan selalu kayak gitu, terutama yang udah pernah ngerasain jadi anak kos, atau yang nggak pernah nge…

Engkau Pergi Bersama Mimpi

Image
Foto: banksy

Tak lupakah kamu dengan apa yang sudah kamu lakukan?

Kamu datang seperti duri, lalu pergi seperti mimpi. Tanpa diminta. Namun ketika aku sedang benar-benar menginginkannya, kamu hanya memberi ruang hampa. Apa yang kamu lakukan ini, semata cinta, atau hanya permainkan rasa?
Jangan buang waktumu dengan membuang-buang waktuku. Jika tak ingin miliki hati, jangan bawa pergi bahkan berlari dan tak kembali. Kembalikan hati itu ke tempat semula jika kamu memang tak berminat lipurkan lara.
Aku menghela napas.
Baik. Aku biarkan kamu pergi bawa hatiku. Tapi beri tahu aku, siapa sebenarnya yang membawa hatimu, hingga kamu tak memilikinya sama sekali untukku?

Masih Tentang Jarak

Image
Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan kita berjauhan. Tetapi aku lebih tidak mengerti lagi mengapa dan bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita. Semua ini memiliki alasan.
Namun ketika aku berusaha mencari apa maksud dari ini semua, aku terhalang oleh jarak. Seperti para biksu dan guru pada setiap film kolosal, seperti Chinmi dari serial manga Kung Fu Boy yang berguru untuk membelah bulan di air, aku justru menjadikan jarak adalah guruku. Guru kehidupan, guru spiritual, guru seni.
Terkadang kita hanya harus berhenti melawan untuk menang.

Jarak Mengajari Kita Percaya

Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan selalu bertemu tapi tidak adanya rasa percaya.
Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan sering bertemu tapi selalu sibuk sendiri-sendiri.
Sesungguhnya jarak terjauh adalah ketika pasangan berdekatan tapi tak ada yang memprioritaskan satu sama lain.
Sesungguhnya jarak yang hitungannya kilometer bukanlah apa-apa jika cinta kamu dan dia itu forever.

About Promise

Image
Entah kenapa, aku rasa makin ke sini makin banyak orang yang menganggap janji itu sepele, janji bukan lagi sesuatu yang sakral, dan janji nggak lagi sakti.
Nggak tau pasti apa penyebabnya. Apakah karena terlalu banyak orang berjanji lalu nggak ditepati, atau terlalu banyak yang berjanji tapi menepatinya secara diam-diam. Tapi satu hal yang aku sadari, janji adalah sesuatu yang nggak bisa keluar begitu aja, khususnya bagi laki-laki.
Janji itu kayak jokes. Semakin sering dikeluarkan, semakin berkurang kekuatannya, dan semakin muaklah orang yang mendengarnya. Makanya, semakin banyak janji, justru semakin meragukan.
Berkurangnya kesakralan janji ini semakin terlihat ketika seleb-seleb di TV seenak jidat bisa nikah dan cerai, sampai ditambah ngemeng-ngemeng para pejabat yang bilang “TIDAK!” tapi nyatanya korupsi juga. Kita terlalu lelah dengan janji yang diingkari. Materai. Aku menganalisis kenapa benda itu diciptakan, hasilnya bahwa ternyata memang sejak dulu selalu ada orang…

Sekarang, Aku Sadar

Image
Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh.
Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu.
Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”.
Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di ‘rumah’, yaitu di matamu –tempat aku menemukan keteduhan.

Baru aku sadar, sedetik setelah pergi, manusia bisa ri…

Alasan Orang BERTAHAN

Image


Pernah nggak kamu bertanya, “Kenapa aku bertahan sampai segininya?” Padahal keadaan tidak memungkinkan lagi, mustahil buat bersama.
Kadang, seseorang tidak tau alasan mereka bertahan sejauh itu dan melampaui batasnya.
Ketika seseorang suka sama orang lain, dia pasti akan mencari tau banyak tentang orang itu. Gimana kabarnya dia, latar belakangnya, kebiasaannya. Kemudian dia akan menyesuaikan informasi-informasi tentang dia yang disuka dengan kebiasaan yang selama ini dia pegang. Bahkan beberapa orang ada yang memaksakan dan rela mengalah demi menyesuaikan kebiasaan dengan orang yang disukai itu. Contoh sederhananya adalah kalo kamu suka sama orang lain, maka apa yang menjadi kesukaannya adalah kesukaan kamu juga. Misalnya ketika kamu suka  orang dan orang itu suka klub bola tertentu, kamu bakal suka (atau mau gak mau mencoba) suka sama klub bola yang sama dengan dia.
Itu namanya pengorbanan. Kemudian kondisi-kondisi yang sama tadi diartikan sebagai ‘kecocokan’ supaya dia…

Untuk Mereka yang Takut Kehilangan

Image
Aku pernah ngomong, “Sesuatu yang harusnya keluar harus dikeluarkan. Kalau nggak, bisa bikin gelisah.”

Itu pula yang mendasari ku untuk membuat postingan kali ini. Ada yang pengen aku share ke kalian. Yang intinya adalah tentang… perasaan.

Aku mulai dengan pacaran.

Pacaran itu sesuatu yang indah, sesuatu yang seru, sesuatu yang… bisa ngisi hari-hari. Tapi ketika semuanya berjalan seiring waktu, ada perasaan baru -dan berbahaya- yang timbul, yaitu takut kehilangan.




Rasa takut kehilangan itu membebankan.
Semakin indah, semakin baik, semakin sempurna seseorang di mata kamu, maka semakin takut kehilangan kamu akan dia. Rasa takut kehilangan ini kadang memunculkan tindakan-tindakan irasional. Misalnya dalam pacaran, rasa takut kehilangan seringkali jadi dalang timbulnya cemburu buta. Tidak pernah rela sedikit pun ngeliat dia kenal sama seseorang yang punya kelebihan dibanding kita.

Sebagai contoh kalau kamu pacaran sama seorang yang suka voli, tapi kamu gak jago main voli, terus p…

Surat Rindu yang Tak Perlu Dibalas

Image
Bagaimana mungkin pria dan wanita, dua makhluk yang saling bingung karena sifat lawan jenis masing-masing, bisa jatuh cinta?

Bagaimana mungkin pria dan wanita, yang konon berasal dari planet yang berjauhan, yaitu dari Mars dan Venus, bisa saling merindukan padahal sama-sama sedang berada di bumi?

Ah, pertanyaan klise itu memuakkan, memekakkan telinga. Namun apa yang lebih lumrah dari kalimat “aku rindu kamu”? Rindu yang tak berbalas. Setidaknya begitu bagiku.

Semua hal memang tak harus tersurat, tapi tak semua manusia memiliki kepekaan tinggi terhadap yang tersirat. Mulut-mulut itu berucap, “Tenang saja, dia juga pasti merindukanmu.”

Mungkin. Mungkin. Mungkin.

Cuma kata itu yang terus-terusan dimentahkan pikiran melalui mulutku.

Berpikir positif. Ah, sudah. Sejak awal hingga kini aku berpikir positif. Aku menanamkan kalimat “kamu juga rindu aku” dalam benak. Namun benakku tidak cukup bodoh untuk tidak meminta bukti.

Kepada semesta, aku meminta bukti sebagai alasan aku bisa t…

Surat Singkat dari Laki-Laki

Memangnya kenapa kalau memulai duluan? Takut disangka murahan? Harusnya kami saja kamu sebut murahan jika semurah itu melabeli seorang perempuan “murahan.”
Memangnya kenapa kalau menunjukkan suka lewat perhatian? Takut disangka gampang? Pemikiran “takut disangka gampang”-mu itu justru yang mempersulit keadaan.
Kami sudah kehabisan waktu. Kami, yang mulai beranjak dewasa –karena diharapkan dan dibutuhkan untuk dewasa di depan perempuan yang kamu sukai– mulai muak dengan semua ini.
Kami lelah ketika kamu menuhankan gengsi. Pembenaran-pembenaran “supaya nggak terkesan gampang,” “supaya nggak dianggap murah,” “supaya bikin penasaran” itu semakin ke sini sepertinya semakin terasa dipaksakan dan dijadikan ‘makanan’ bagi momok menakutkan bernama “gengsi.”
Mungkin untuk awal-awal kenal dan awal dekat, semuanya masih bisa dimaklumi, semuanya masih indah, dan masih menimbulkan percikan-percikan kasmaran. Ketika waktunya sudah cukup lama untuk sebuah pendekatan, kami butuh tau. Iya…

Boleh Aku Peluk Lagi?

Satu, saat udara tergerak bulir-bulir hujan, menghembuskan dirinya melewati sela jari dan telingamu. Sontak membuat bulu kudukmu berdiri. Di sana aku ada, menghangatkan.

Lagi, ketika kamu terlelap dalam malam penuh mimpi, entah tentangku atau bukan. Saat gerakan tubuhmu tak sengaja menjauhkan selimut. Namun aku dekat.

Lagi, waktu pertama kamu membuka mata, menghadap ke jendela, menyadari betapa aku tak begitu nyata. Embun pagi hampir ditonggakkan daunnya, pertanda hari segera datang. Aku di sana, menyejukkan.

Lagi, saat kamu pertama melangkahkan kakimu ke dalam rumah di ujung hari yang lelah. Tergeletak di sofa, tertidur bahkan belum sempat melepaskan sepasang kaos kaki warna pelangi kesayanganmu. Aku di sana membuat nyaman.

Lagi, ketika kamu memasuki tempatmu menghilangkan kelu kesah dengan raut sedihmu terhanyut alunan musik kesukaanmu. Aku disana, membantumu terlelap.

Selalu, ketika air matamu jatuh untuk kesekian kalinya, entah untukku atau bukan. Aku melingkari punda…

Untuk Kamu yang Jauh

Image
Ini hari kedelapan sejak terakhir kita bertemu. Namun terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.
April boleh berlalu. Namun sebelum April yang baru datang, aku tetap merasa seperti baru jatuh cinta. Jika ada ceruk cawan terbesar dari langit, maka akan retak untuk menampung rindu yang beringas ini. Jika ada awan yang pantas menurunkan hujan paling romantis, maka dia akan gigit jari mendengar setiap doa lirih yang di dalamnya terselip namamu.
Satu hal paling aku suka dari pertemuan kita adalah debar di dada yang rasanya seperti baru pertama jatuh cinta. Satu hal paling berat ketika bertemu kamu adalah pada saat perjalananku pulang kembali ke rumah. Rumahku yang tanpa kamu.
Dari dalam sini terlihat hujan deras. Jika orang-orang bersuyukur tetap di bawah atap, sedang kepalaku harus bergemeretak…

Ada ‘Rumah’ di Matamu

Senangnya bisa kembali ke secarik kertas ini. Kertas digital yang selalu menjadi cawan yang kemudian kutuangi ide, cerita, atau sekadar curahan hati alam bawah sadar.
Terkadang, sebenarnya bukan terkadang, tapi selalu, aku selalu heran ketika suatu rencana yang dibuat manusia bisa hancur begitu saja oleh makhluk bernama ‘takdir’. Aku pernah mendengar sebuah pernyataan dari seorang dosen berbunyi ‘semua yang terjadi pada kita 80% adalah akibat perbuatan kita, 18% kondisi, dan 2% sisanya adalah takdir’. Jika dikaji lebih dalam, persentase tadi sebenarnya seimbang karena masing-masing pengaruh materi sesuai dengan kekuatannya. Biasanya kita baru memperhatikan komposisi ini ketika keadaan tak sesuai dengan yang kita inginkan. Dan ‘takdir’, sebagai persentase terkecil selalu menjadi kambing hitam paling empuk, jika kita sudah tak bisa lagi menyalahkan kondisi dan perbuatan kita sebagai persentase yang lebih besar.
“Nila setitik, rusak susu sebelanga,” peribahasa yang bisa aku ambil untuk …

Sebuah Lembaran

Image
Halaman demi halaman aku tulis, bersama kamu. Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti. Atau aku mestinya cukup pahami. Namun cinta tak pernah sederhana.
Pena dengan tinta hitam kita ukir selengkung demi selengkung. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu.
Semuanya kita lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini, adalah hidup. Setidaknya bagiku. Aku sudah meninggalkan halaman usang di belakang. Aku berpegang sampai nyawa ini kuregang, kamu yang aku sayang.
Aku mencintamu, sangat mencintaimu. Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur. Kamu diam seribu bahasa, aku lelah menenun asa. Sekali lagi, cobalah mengerti? Atau mungkin sedikit saja pahami? Yang aku tulis dalam hati selalu kamu yang kucintai.
Pegang pena ini bersama, guratkan kisah kita.
Ah, maaf, cerpen kita maksudku. Nampaknya cerita ini terlalu singkat untuk disebut kisah.
I♡Y ALP ({})

Mungkin Benar Kata IBU

Kata IBU, aku dulu anak yang selalu optimis, selalu gembira, selalu semangat, selalu yakin bahwa apa yang aku cita-citakan kelak akan jadi kenyataan. Walaupun aku dulu sering sakit-sakit an. Iya, mungkin semua itu benar. Aku selalu bilang dengan cerewetnya pada Ayah Ibu, “Ayah, Ibu. Aku nanti kalo udah gedhe pengen jadi seperti kakung, jadi Polisi.” dengan cengengesan dan berlagak seperti Polisi beneran. Kata Ibu, aku anaknya pendiam, pendiam banget. Terkadang sampai keluar rumah saja tidak mau. Tapi di balik sikap pendiam dan malu-malu ku itu, aku selalu ingin menjadi yang terbaik di antara teman-teman sepermainan. Tapi faktanya aku terlalu lemah untuk berangan-angan agar bisa menjadi yang terbaik di antara teman-teman. Kata Ibu juga, aku anak yang malas. Kata Ibu yang satu ini memang benar adanya. Aku terlalu malas untuk bangun di pagi hari, menyapu, cuci sepatu sendiri di hari minggu. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk berolahraga dan berimajinasi tentang apa yang…