Karena aku cinta kamu sampai segitunya

 

Tidak pernah ada yang berkata ini akan mudah.

Fighting for someone has never been easy. For me. For you. For us. Anyone.

Ketika kamu pikir ini adalah tentang berlari, pada akhirnya hanya akan ada lelah menghantui. Tidak ada yang bisa dipetik dari sesuatu yang terburu-buru. Karena, ini adalah tentang langkah demi langkah. Tidak tidak… lebih sedikit dari itu. Inci demi inci, yang di antara jaraknya terhampar bebatuan, yang di setiap detiknya dingin menyerang memilukan.

Sebelum berlayar, seringnya kita melupakan untuk melihat dari ketinggian. Mercusuar di ujung dermaga, memberikan gambaran jelas kapal-kapal yang karam karena ketidaksabaran. Kabut tebal di tengah samudera, mengelamkan segala yang terlihat di ujung mata. Desir ombak, tak sabar ingin menggulung tanpa kasihan.

Kadang kita lupa, ketika dihantam kenyataan, darah cinta mengalir dalam bentuk air mata dan doa. Namun ini bukan tentang berapa kali kita jatuh, bukan soal berapa kali kita saling menyakiti. Bukan pula tentang siapa yang menang antara ego atau kesalahan.

Ini soal waktu.

Kita hanya bisa melihat apa yang diajarkan hidup, jika kita memberikan waktu padanya, dan melewati segala pedihnya.

Seperti gurun tanpa ujung, namun ada keindahan langit penuh bintang di setiap malamnya. Seperti hujan tanpa reda, tetapi ada ketenangan dalam setiap rintiknya. Seperti dingin yang menusuk, ada hangat dalam temu, tawa, berbalut pelukan.

Kita hanya perlu melewatinya untuk tahu apa yang ada di baliknya.

Meski sama-sama penuh luka dan dengan tangan berlumur air mata, kita terpapah-papah melalui ini semua. Saling bopong melewati waktu. Dan ketika malam datang, langit semu bertanya padaku,

“Mengapa kamu berjalan sejauh ini?”

Tanpa jeda, dengan satu degup jantung, aku tahu apa alasanku sampai segininya.

Karena aku cinta kamu sampai segitunya.

Seseorang yang Bermata Teduh

tumblr_m850vrkYKu1r6f8ac

Kadang kita nggak sadar sudah menunggu selama apa untuk bertemu dengan orang yang tepat.

Aku nggak pernah mengerti gimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal-hal seperti itu bisa semudah berlempar senyum lalu melayangkan jabatan tangan kemudian bertukar nama. Ada juga yang nggak berdaya membendung cinta yang berhasil merangsek masuk ke dinding-dinding hati akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak sengaja dilakukan bersama. Bahkan ada yang bersusah payah untuk jatuh cinta dengan menunggu… entah berapa lama akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu cinta.

Tapi ada satu kesimpulan yang bisa ku ambil dari beberapa hal yang aku bingungkan tadi. Kesemuanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan butuh keadaan. Sayangnya, banyak pula cinta yang harus mati karena keadaan, yang sering menyamar dalam bentuk ‘kenyataan’, ‘keyakinan’, atau sekadar ‘pertemanan’.

Mungkin sama banyaknya dengan cinta yang harus mati karena keadaan, banyak juga cinta yang justru hidup karena keadaan. Jadi rasanya terlalu picik jika orang tak memberikan kesempatan untuk cinta yang baru saja lahir dan masih tumbuh. Membunuhnya dengan kata-kata “maaf, tapi menurut aku ini kecepetan” hanyalah akal-akalan mereka yang tak punya perasaan yang sama, hanya supaya nggak terlalu kelihatan berdosa.

Tapi percayalah, orang yang tepat itu akan datang.

Kadang sepasang orang membutuhkan terlalu lama waktu untuk menyadari bahwa sebenarnya yang mereka butuhkan sudah ada di depan mata. Hanya saja, mereka terlalu terfokus untuk mengejar yang diinginkan. Sama halnya seperti seorang anak. Seorang anak menyukai banyak hal. Mereka suka berlari, mereka suka melompat, bahkan mereka suka terbang. Itu semua yang mereka inginkan.

Namun ketika terantuk, terjatuh, bahkan terjerembab, siapa yang mereka butuhkan? Ibu, atau minimal sebuah pelukan. Anak-anak harus merasakan yang namanya terjatuh dulu, harus merasakan yang namanya luka dan menangis untuk bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah pelukan.

Begitu juga yang terjadi pada kebanyakan kita. Terlalu senang mengejar-ngejar yang diinginkan, sampai dibutakan mana yang sebenarnya dibutuhkan. Tapi itu tidaklah salah. Karena kalau nggak begitu, kita nggak akan merasakan luka, dan kita nggak tau sebagaimana menyembuhkannya ‘obat’. Kalau kita nggak pernah salah, kita nggak akan bisa bertemu orang yang tepat.

Padahal jika dilihat lebih tulus, semua yang dibutuhkan nggak begitu rumit. Kita pasti ingin bersama mereka yang selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi diri kita sendiri. Kita pasti ingin menghabiskan hari dengan orang yang cukup dengan menggenggam tangannya saja, kita merasa digdaya menghadapi dunia.


Kita pasti ingin hidup dengan seseorang yang cukup dengan menatap matanya saja sudah merasa seperti di rumah.

Kita hanya ingin terlelap di pelukan seseorang bermata teduh, yang melenyapkan segala jenuh, menggantikan semua peluh.


Pada akhirnya, kita hanya ingin terjatuh pada mereka yang meski sama penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan.

Semua Cowok Itu Brengsek

Guys, jaga kesehatan ya. Sekarang cuaca lagi gak menentu. Siangnya bisa panas, sorenya bisa hujan, dan malemnya bisa dingin, apalagi gak punya siapa pun buat dipeluk tengah malam.
So, siang menjelang sore tadi aku membahas topik yang sebenernya lumrah dan jadi persoalan pelik di dunia percintaan sejak dulu. Bahasan tentang kenapa cewek lebih suka cowok brengsek dibanding cowok baik.
FOTO: WEKNOWMEMES
Sebenernya permasalahan ini kalo dirunut akarnya bisa panjang banget. Liat aja gambar di atas. Rumit banget, gimana seorang cowok baik ngejar cewek cantik, terus cewek cantik ngejar cowok brengsek, kemudian cowok brengsek ngejar cewek seksi yang nakal, dan cewek nakal nguber-nguber cowok kaya. Dan yang menjadi ironi adalah ternyata seorang cowok baik yang diabaikan cewek cantik ternyata di-secret-admirer-in sama cewek pendiem.
Kali ini aku pengen membahas dari sisi “kenapa cewek cantik suka sama cowok brengsek”.
Cowok Badboy Itu Menarik
Iya, tentunya kalo nggak menarik, cewek-cewek gak akan mau deketin atau mancing diri buat dideketin. Apalagi kalo yang jadi badboy itu tukang becak, setiap hari pasti menarik tuh dia. Menarik becak.
Karena Cowok Baik Ngebosenin
Para cewek beranggapan cowok yang baik itu datar. Hidup bareng cowok baik itu gitu-gitu aja, nggak ada turunan atau tanjakan. Gak kayak sama badboy yang bikin deg-deg-ser penasaran tiap hari.
Naksir Badboy Banyak Saingan
Banyak cewek beranggapan badboy itu menarik buat mereka. Pastinya banyak juga yang ngincer buat bisa ngegebet badboy. Dan gimana rasanya ketika kamu yang dipilih untuk jadi gebetan? Pastinya bangga, menang di antara banyak cewek lainnya. Permasalahannya, kamu doang yang digebet apa bukan. :p
Ada Tantangan dan Kebanggaan Lain
Cewek suka sama badboy menurut gue adalah efek sinetron dan film-film. Mereka bermimpi bisa ngedapetin cowok yang brengsek, terus berharap cowok itu berubah jadi baik gara-gara dia. Mending kalo cowoknya jadi baik, lah kalo yang cewek ikut-ikutan brengsek, ya paling ujungnya mereka berdua brengsek-brengsekan.
Jadi, selain poin-poin di atas adalah alasan kenapa cewek-cewek pada demen sama badboy, menurut kesotoyan gue lagi cewek itu suka sama badboy sekadar suka dan pengen saat itu doang. Untuk ukuran mencari pasangan hidup (suami), pastilah cewek-cewek lebih memilih cowok baik.
Sekarang gue jadi tau kenapa cewek-cewek sering ngeluhin, “Kenapa sih semua cowok tuh sama aja?! Brengsek semua! Kalo gak brengsek, homo.” Ternyata jawaban dari pertanyaan mereka adalah, “Salah sendiri tertariknya sama yang brengsek terus. Kalo demen yang begitu, ya mesti siap.”
Buat cewek-cewek yang tertarik bahkan obsesi banget sama badboy, jangan ngeluh ya kalo disakitin dan nangis terus. Itu kan udah konsekuensi. Harus ngerti dong. Paling nanti kalo udah kenyang disakitin juga ujung-ujungnya nyari yang baik juga.
Dan seiring dengan fenomena cewek-cewek suka sama cowok brengsek, jangan salahin cowok pada jadi brengsek kalo cewek-cewek suka dan maunya sama cowok brengsek. Jangan kaget kalo suatu saat kata-kata cewek “Semua cowok itu brengsek” terwujud karena yang baik akhirnya memutuskan jadi brengsek biar disukain sama kamu.
Konklusi dari postingan ini adalah…
Se-badboy-badboy-nya cowok, semuanya kembali ke tampang.
…lalu mungkin bisa ditambah uang.
So, girls, jadi kamu lebih milih cowok brengsek, apa yang baik?

Kita yang Memperumit Masalah Sendiri

Aku sudah lengkap dengan jas hujan, bahkan celana jeans panjang sudah digulung. Langit sore waktu itu lebih kelabu dari pasangan LDR (Long Distance Relationship) yang udah kangen karena lama gak ketemu tapi pas ketemu malah diputusin. Aku melaju melanjutkan perjalanan sambil senyam-senyum karena kali ini mengalahkan siapnya seorang ojek payung dalam mengantisipasi terpaan air yang bakal turun dari langit.

Tujuh menit, 15 menit, setengah jam berlalu. Hujan tak kunjung datang. Aku sedikit manyun, kemudian menepi ke sebuah halte untuk melepas dan melipat jas hujan yang aku kenakan. Pada saat aku hendak memasukkan jas hujan yang sudah terlipat rapi ke bawah jok motor, terdengar dua remaja yang mengeluhkan cuaca hari itu. “Langitnya PHP nih,” ujar salah satu dari mereka.

“Dem. Gue kegeeran.” Perjalanan sore itu selanjutnya aku habiskan dengan berpikir. Coba kalau tadi aku nggak mengharapkan hujan. Coba kalau aku tadi nggak sotoy sama langit. Coba kalau tadi aku gak dengan cepat menyimpulkan bahwa mendung berarti akan turun hujan.

Hal seperti di atas memang kedengarannya rada-rada benar. Kita lebih suka menyalahkan keadaan yang memang nggak pasti, dibanding menyalahkan otak (atau mungkin hati) yang sotoy menyimpulkan yang pasti terjadi. Misalnya seperti ketika ada orang yang hadir dalam hidup kamu. Dia datang dengan segala kelengkapannya, mengisi kekosongan-kekosongan yang kebetulan kamu inginkan, selalu ada buat kamu, dan kebetulan pula teman-temanmu menyangka kalian sudah jadian. Namun semua fakta tadi tetap gak bisa buat menyimpulkan bahwa dia pasti suka sama kamu.

Pengharapan itu membebankan.

Ketika kamu berharap, kamu membebankan suatu hal yang tidak pasti pada hati. Dan tau apa yang terasa kalau itu tak terjadi? Kecewa hati.

Kadang menyimpulkan seperti tadi cuma penyangkalan diri aja. Sebenernya kamu yang suka dia, karena deket. Di sisi lain, kamu juga gak siap menerima fakta kalau perasaan kamu gak berbalas. Dari situ kamu menyangkal.

Kejadian kayak gini sih biasanya disebut PHP (Pemberian Harapan Palsu). Nah, coba dipikir lagi. Siapa yang sebenarnya melakukan PHP? Dia, atau diri kamu sendiri yang memberikan harapan pada hati dengan menerjemahkan kebaikan adalah harapan?

Anggap saja memang benar kamu nggak kegeeran, dan memang benar dia PHP. Kalo keadaannya seperti itu, emang apa yang bisa kamu lakukan? Minta kepastian? Atau langsung pergi sekalian? Tanya diri kamu kalimat ini, “Emang bisa? Emang berani?”

Sebenarnya dengan kamu berdiam diri, kamu udah mengizinkan dia dan diri kamu sendiri jadi PHP. Pemberi, dan Penikmat Harapan Palsu.

PHP itu emang jodoh banget sama yang diem dan gak berani ngambil sikap (entah itu nagih kepastian, atau pergi sekalian). Semakin kamu diam, semakin betah dia PHP.

Kita abaikan orang yang PHP, karena apa yang dilakukannya itu emang jahat buat kamu. Tapi yang perlu diperhatikan, kenapa kamu diem aja dijahatin? Banyak alasan yang dikeluarkan orang yang nggak mau nagih kepastian. Biasanya alasannya karena cewek, gengsi, malu, takut disangka kegeeran.

Sering kali, manusialah yang memperumit masalahnya sendiri.

Tinggal pilih, jadi korban PHP terus, nagih kepastian, atau pergi sekalian. Jangan salahin dia PHP terus kalo minta kepastian atau pergi sekalian aja gak berani.

Buat Para Calon MABA

“Yeah LULUS!”

“Corat-coret! Corat-coret!”

Mungkin itu kata-kata itu yang keluar saat kamu melihat pengumuman kelulusan dari sekolah, entah secara online, surat yang dikirim ke rumah, ataupun lewat desiran angin yang membisikkan kata “kamu lulus” kalau kamu memang sekolah di perguruan pendekar calon Avatar.

Tapi tahukah kamu?

Lulus bukanlah akhir, namun merupakan awal. Awal dari penderitaan. Huwahahahaha.

via giphy
via giphy

Karena ketika memasuki dunia perkuliahan, kamu akan menemukan banyak perubahan. Kamu akan mengalami culture shock karena perbedaan itu.

Beruntung kamu lagi buka blog ini. Kalian sebentar lagi akan segera mendapatkan pencerahan tentang gambaran apa saja perbedaan dunia kuliah dan dunia sekolah.

Langsung aja, check these out!

1. Corat-Coret

Hal pertama yang dilakukan anak sekolah setelah menerima pengumuman lulus adalah nyamperin orang tua terus cium tangan dan memeluknya lalu mencuci kaki ibu corat-coret. Kegiatan corat-coret ini menjadi agenda utama karena memang dari foto-foto dan cerita yang beredar di kalangan anak-anak yang udah duluan lulus, coret-coret sangat menyenangkan dan sarat makna.

Bayangkan saja, baju sekolah yang dulunya putih, kini dibuat menjadi colorful. Mungkin bagi beberapa orang yang addict terhadap online shop bakalan mencoret bajunya dengan motif tribal.

Semasa sekolah, yang dicoret adalah ini baju

gadis_sma_cantik_coret_seragam-615x350
via radarbolmong

Saat kuliah, kelak yang akan dicorat-coret adalah tugas dan skripsi

Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.
Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.

2. Perlengkapan

Sekolah

via pennyappeal
via pennyappeal

Kuliah

IMG_0165
Cuma ini. Itu juga hasil minjem, kagak dibalikin lagi.

3. Jam Bangun

Sekolah

Jam 6 pagi

shutterstock_107370656-wake-up-stretch
Credit: Shutterstock

Kuliah

Jam 11 siang

Credit: Disney
Credit: Disney

5. Berangkat

Sekolah

via Tumblr
via Tumblr

Kuliah

via giphy
via giphy

6. Ngerjain Tugas

Sekolah

homework

Kuliah

via kopernik.ngo
via kopernik.ngo

ujung-ujungnya…

f320eb73be76285500464a4ebfd22f49

7. Di Kelas

Sekolah

via wolfvsgoat.com
via wolfvsgoat.com

Kuliah

Credit: Bloomberg
Credit: Bloomberg

 8. Pacaran

Sekolah

Cukup jadi anak basket/futsal, punya motor, makan mie ayam bareng + bercanda, langsung jadian.

Kuliah

Udah UKM basket/futsal, udah punya motor, bahkan udah kerja, ngajak makan + nonton, bercanda juga udah. Tapi tetep jomblo juga.

Credit: Cartoon Network
Credit: Cartoon Network