Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Pribadi

You know you’re in Love :)

You know you’re in love when you can’t keep your eyes off of her.
You know you’re in love when you can’t get your eyes off of her.
You know you’re in love when you do everything to find out her name.
You know you’re in love when you really want to have a chat with her even though she doesn’t know you at all.
You know you’re in love when anything about her becomes the most important knowledge to you.
You know you’re in love when you hate that you got no idea about her.
You know you’re in love when you’re seeing her picture on and on and you can’t stop at all.
You know you’re in love when you wait for her online nervously.
You know you’re in love when you don’t want to delete all the comments and messages from her.
You know you’re in love when you see her then your heartbeat’s sound is being louder and louder, but you’re voice becomes quieter and quieter.
You know you’re in love when you can’t talk in front of her at all, but you know you really want to.
You know you’re in love when you want to ma…

Lebih Dari Menyakitkan

Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri hingga rasanya ingin memukul wajahmu sekeras mungkin sampai kamu mati?
Bukan karena bumi bergemuruh atau langit runtuh, tetapi lebih buruk dari itu. Lebih putus asa daripada itu. Karena… Dia mencintaimu
Kamu melukainya  Pada malam saat kamu tidur. Kamu berharap bayangan buruk akan larut bersama mimpi. Atau kamu merelakan diri, berharap mimpi indah datang memanipulasi kenyataan. Mengembalikan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Waktu.
Pagi hari saat kamu terbangun. Hanya tatapan kosong yang memancar dari sepasang matamu yang mencerminkan hati yang berlubang. Lubang yang kamu gali sendiri. Lubang yang tercipta karena ulahmu sendiri.
Air yang mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kamu berharap bisa menyegarkan raga, meskipun sebenarnya hanya tipu daya. Tetapi setidaknya, hanya sesaat, hanya sepersekian detik. Nyatanya, hanya harapan yang mengalir luruh bersama air melalui sela-sela di sudut lantai.
Pada akhirnya, saat kamu meli…

Karena aku cinta kamu sampai segitunya

Tidak pernah ada yang berkata ini akan mudah.
Fighting for someone has never been easy. For me. For you. For us. Anyone.
Ketika kamu pikir ini adalah tentang berlari, pada akhirnya hanya akan ada lelah menghantui. Tidak ada yang bisa dipetik dari sesuatu yang terburu-buru. Karena, ini adalah tentang langkah demi langkah. Tidak tidak… lebih sedikit dari itu. Inci demi inci, yang di antara jaraknya terhampar bebatuan, yang di setiap detiknya dingin menyerang memilukan.
Sebelum berlayar, seringnya kita melupakan untuk melihat dari ketinggian. Mercusuar di ujung dermaga, memberikan gambaran jelas kapal-kapal yang karam karena ketidaksabaran. Kabut tebal di tengah samudera, mengelamkan segala yang terlihat di ujung mata. Desir ombak, tak sabar ingin menggulung tanpa kasihan.
Kadang kita lupa, ketika dihantam kenyataan, darah cinta mengalir dalam bentuk air mata dan doa. Namun ini bukan tentang berapa kali kita jatuh, bukan soal berapa kali kita saling menyakiti. Bukan pula tentan…

Seseorang yang Bermata Teduh

Kadang kita nggak sadar sudah menunggu selama apa untuk bertemu dengan orang yang tepat.
Aku nggak pernah mengerti gimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal-hal seperti itu bisa semudah berlempar senyum lalu melayangkan jabatan tangan kemudian bertukar nama. Ada juga yang nggak berdaya membendung cinta yang berhasil merangsek masuk ke dinding-dinding hati akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak sengaja dilakukan bersama. Bahkan ada yang bersusah payah untuk jatuh cinta dengan menunggu… entah berapa lama akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu cinta.
Tapi ada satu kesimpulan yang bisa ku ambil dari beberapa hal yang aku bingungkan tadi. Kesemuanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan butuh keadaan. Sayangnya, banyak pula cinta yang harus mati karena keadaan, yang sering menyamar dalam bentuk ‘kenyataan’, ‘keyakinan’, atau sekadar ‘pertemanan’.
Mungkin sama banyaknya dengan cinta yang harus mati karena keadaan, banyak juga cinta yang justru hidup karena keadaan. J…

Semua Cowok Itu Brengsek

Guys, jaga kesehatan ya. Sekarang cuaca lagi gak menentu. Siangnya bisa panas, sorenya bisa hujan, dan malemnya bisa dingin, apalagi gak punya siapa pun buat dipeluk tengah malam. So, siang menjelang sore tadi aku membahas topik yang sebenernya lumrah dan jadi persoalan pelik di dunia percintaan sejak dulu. Bahasan tentang kenapa cewek lebih suka cowok brengsek dibanding cowok baik. FOTO: WEKNOWMEMES Sebenernya permasalahan ini kalo dirunut akarnya bisa panjang banget. Liat aja gambar di atas. Rumit banget, gimana seorang cowok baik ngejar cewek cantik, terus cewek cantik ngejar cowok brengsek, kemudian cowok brengsek ngejar cewek seksi yang nakal, dan cewek nakal nguber-nguber cowok kaya. Dan yang menjadi ironi adalah ternyata seorang cowok baik yang diabaikan cewek cantik ternyata di-secret-admirer-in sama cewek pendiem. Kali ini aku pengen membahas dari sisi “kenapa cewek cantik suka sama cowok brengsek”. Cowok Badboy Itu Menarik Iya, tentunya kalo nggak menarik, cewek-cewek gak ak…

Kita yang Memperumit Masalah Sendiri

Aku sudah lengkap dengan jas hujan, bahkan celana jeans panjang sudah digulung. Langit sore waktu itu lebih kelabu dari pasangan LDR (Long Distance Relationship) yang udah kangen karena lama gak ketemu tapi pas ketemu malah diputusin. Aku melaju melanjutkan perjalanan sambil senyam-senyum karena kali ini mengalahkan siapnya seorang ojek payung dalam mengantisipasi terpaan air yang bakal turun dari langit.
Tujuh menit, 15 menit, setengah jam berlalu. Hujan tak kunjung datang. Aku sedikit manyun, kemudian menepi ke sebuah halte untuk melepas dan melipat jas hujan yang aku kenakan. Pada saat aku hendak memasukkan jas hujan yang sudah terlipat rapi ke bawah jok motor, terdengar dua remaja yang mengeluhkan cuaca hari itu. “Langitnya PHP nih,” ujar salah satu dari mereka.
“Dem. Gue kegeeran.” Perjalanan sore itu selanjutnya aku habiskan dengan berpikir. Coba kalau tadi aku nggak mengharapkan hujan. Coba kalau aku tadi nggak sotoy sama langit. Coba kalau tadi aku gak dengan cepat menyimpulkan …

Buat Para Calon MABA

“Yeah LULUS!”
“Corat-coret! Corat-coret!”
Mungkin itu kata-kata itu yang keluar saat kamu melihat pengumuman kelulusan dari sekolah, entah secara online, surat yang dikirim ke rumah, ataupun lewat desiran angin yang membisikkan kata “kamu lulus” kalau kamu memang sekolah di perguruan pendekar calon Avatar.
Tapi tahukah kamu?
Lulus bukanlah akhir, namun merupakan awal. Awal dari penderitaan. Huwahahahaha.
via giphy
Karena ketika memasuki dunia perkuliahan, kamu akan menemukan banyak perubahan. Kamu akan mengalami culture shock karena perbedaan itu.
Beruntung kamu lagi buka blog ini. Kalian sebentar lagi akan segera mendapatkan pencerahan tentang gambaran apa saja perbedaan dunia kuliah dan dunia sekolah.
Langsung aja, check these out!
1. Corat-Coret
Hal pertama yang dilakukan anak sekolah setelah menerima pengumuman lulus adalah nyamperin orang tua terus cium tangan dan memeluknya lalu mencuci kaki ibu corat-coret. Kegiatan corat-coret ini menjadi agenda utama karena memang dar…

Sebuah Balasan

Foto: spesial
Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ’emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.
“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”
“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”
“Pernahkah s…

Berbicara Sendiri

Aku berdiri di depan kaca. Samar-samar bertatapan dengan bayanganku di sana. Sesekali aku menampar pipiku sendiri, berusaha menyadarkan diri, atau sekadar berusaha  memastikan apa yang sedang aku alami bukanlah mimpi.
Aku ingat betul bagaimana 300 orang bangsa Sparta menaklukkan ribuan pasukan Persia. Scene bagaimana Frodo Baggins menaklukkan Mordor masih terpatri jelas di memori. Atau cerita selucu Hiccup menjinakkan Night Fury pun bisa dengan dengan lancar aku kisahkan. Namun ini bukan tentang sebuah kolosal, hal-hal berbau legenda, ataupun cerita tentang naga. Ini adalah sesuatu yang lebih nyata. Tentang aku melawan diriku sendiri. Bagaimana aku meruntuhkan ego, menumbangkan prasangka, dan berusaha menundukkan harapan-harapan dalam diri sendiri.
Aku masih melihat sosok di depan kaca. Kali ini, sesekali mengernyitkan dahi. Nggak habis pikir apa yang sedang aku pikirkan. Ada kekalutan yang aku rasakan.
Aku nggak suka jatuh cinta.
Jatuh cinta membuatku menganggap sesuatu …

Cerita Singkat

Iya, emang cowok selalu salah. Terus kalo salah, bisanya cuma minta maap. Ya gitulah. Cowok kalo salah, terus minta maaf, tetep salah. #kitaselalusalah
Banyak sekali hal-hal menarik yang aku temui belakangan ini. Semua kejadian, yang berhasil aku lewatin dengan baik aku jadikan catatan buat menghadapi kejadian-kejadian berikutnya. Kejadian lainnya, yang nggak aku lewati dengan baik, aku jadikan pelajaran.
Biasanya, orang yang mengalami kegagalan, akan mengada-adakan hikmah. Kadang aku berpikir, apa benar di balik semua kejadian ada hikmahnya atau memang hikmah itu ada karena diada-adakan.
Tapi bagaimana pun itu, aku rasa yang namanya “hikmah” –baik itu memang ada atau cuma diada-ada– datang untuk membuat mereka yang gagal tetap hidup. Setidaknya hikmah jadi alasan supaya tetap berjuang. Dan aku pengen ngasih beberapa hikmah yang aku dapet dari beberapa kejadian yang aku alami belakangan ini: Cinta nggak boleh terlambat, tapi semua lebih buruk jika diungkapkan terlalu cepat. …

Topeng Bernama Alasan

Manusia itu suka mencari-cari. Mencari uang, mencari ilmu, mencari pacar, sampai mencari kepastian. Yang pasti semuanya berakar dari mencari kebahagiaan, dan rasa aman. Makanya nggak heran juga orang mencari-cari suatu hal yang mereka gunakan sebagai topeng yang memberikan mereka rasa aman (walau semu), yaitu alasan.


Misalnya orang yang sedang jatuh cinta. Ketika ditanya oleh orang yang dia suka, “Kenapa sih kamu suka sama aku?” Banyak yang mencoba menjawab dengan berbagai alasan, karena dia menenangkan, karena dia cantik, karena dia baik, karena dia selalu ada. Ada juga beberapa di antara mereka yang menjawab cukup dengan, “Jatuh cinta itu nggak perlu beralasan.”

Satu hal yang aku percaya dari hal di atas adalah kedua-duanya itu cuma kedok. Ya, dalam wujud alasan.
Bahkan cinta yang tanpa alasan pun sebenarnya sudah merupakan suatu alasan. Sederhananya, orang yang benar-benar sedang jatuh cinta, nggak akan tahu benar apa yang menyebabkan dia jatuh cinta. Dia cuma merasakan …

Keadaan yang Serba Salah

Kadang manusia dihadapkan sama keadaan yang kalo dilanjutin salah, ditinggalin juga salah. Posisi ini, kalo di film Dono (sebenernya film Warkop DKI, tapi tetep aja disebutnya film Dono), namanya maju kena-mundur kena.
Kamu juga merasa tersesat. Kamu berjalan, mencoba keluar, tapi berakhir di situ-situ aja. Lubang hitam. Menyedot semua energi cuma buat mikirin harus dilanjutin apa nggak.
Ternyata, yang seperti itu bukan cuma ada di film Warkop. Dalam kehidupan sehari-hari juga seringkali kita menemukan posisi serba salah. Pokoknya bingung harus ngapain.
Misalnya, ketika ada di posisi mencintai orang yang sebenarnya udah dimiliki orang lain. Kamu senang dengan segala perhatian yang ada, dengan keadaan yang ada. Tapi di sisi lain, kamu nggak suka karena kamu nggak tau kamu itu apa, siapanya dia. Kamu bukan pacarnya, dibilang selingkuhannya juga belum, tapi dia yang berpacar begitu perhatian. Mau dilanjutin, dia pun nggak bisa putus sama pacarnya, mau mundur, tapi perhatian…

Pesan Tentang Sebuah Keadaan

Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.
Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.
Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. 
Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 
Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.
Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan …

Mengapa Begini?!

Kadang, hidup ini bukanlah siklus, tapi lebih mirip lingkaran setan. Ke mana pun kita pergi, ujungnya selalu sama… yaitu tak berujung.
Semuanya membuat kita lelah.


Anehnya, ketika berusaha untuk keluar dari kondisi itu, malah terbentur tembok lainnya. Seolah-olah benang yang kusut itu sudah terlanjur ditarik dan simpul-simpulnya merapat, mengecil, lalu menguat.


Seperti itulah rasanya jika semuanya selalu begini. Sehingga yang kita pengen cuma teriak dan bertanya kepada hidup.
MENGAPA BEGINI?! Ketika jomblo
“Yeah! Jomblo itu bebas!”
“Haha! Rasain lo yang punya pacar, mau maen aja ribet mesti izin dulu. Lagi maen mesti laporan mulu!”
Pada akhirnya itu cuma jadi bom waktu yang membuat harus menelan ludahnya sendiri. Bom waktu yang detiknya terus berdetak. Biasanya waktu sudden death ditandai dengan mulai penuhnya notifikasi Facebook dan Path dengan undangan pernikahan teman-teman.
Awalnya enak jomblo bisa seru-seruan, ke mana-mana bebas, lalu tiba waktunya pulang, kamu berbaring d…

Kenapa Cowok Selalu Salah?

Di luar hujan.
Siapa yang nggak suka musim hujan? Bau petrikor yang menguap dari tanah basah, sungai cemas yang mengalir menyusuri kaca jendela, alunan rindu setiap kali air beradu dengan genting.
Aku pun teringat akan satu sosok yang sungguh sempurna untuk menemani aku di saat-saat seperti ini…
Mi instan. Kuah. Pake irisan cabe. Pake telor.
Uhhh~
Memang waktu musim hujan gini, kita jadi mendadak hobi duduk di deket jendela, mendadak jadi puitis, dan berkontemplasi memikirkan banyak hal filosofis dalam hidup.
Sama halnya seperti aku saat ini. Tiba-tiba saja melintas sebuah pertanyaan maha-dahsyat yang rasanya butuh puluhan kali patah hati dan ratusan kepahitan hidup untuk bisa menjawabnya. Sungguh pertanyaan yang sangat dalam. “Kenapa cowok selalu salah?” Dalam renungan sembari menatap jendela yang basah tanpa ditemani oleh mi instan kuah, akhirnya aku menemukan jawaban dari pertanyaan legendaris itu.

Sebuah hubungan yang kandas, kedekatan yang tak sampai, hingga cinta yang…

Turn Over To You

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang. Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja. Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang. Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.
Aku lebih percaya kepada hidup. Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur. Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya. Kita, makhluk yang tak pandai membaca.
Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta. Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada. Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya. Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.
Tapi maaf, aku tidak bisa. Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku. Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan. Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.
Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang. Karena aku tak ingin berakh…