Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pribadi. Tampilkan semua postingan

Lebih Dari Menyakitkan

Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri hingga rasanya ingin memukul wajahmu sekeras mungkin sampai kamu mati?

Bukan karena bumi bergemuruh atau langit runtuh, tetapi lebih buruk dari itu. Lebih putus asa daripada itu. Karena…
Dia mencintaimu
Kamu melukainya
 Pada malam saat kamu tidur. Kamu berharap bayangan buruk akan larut bersama mimpi. Atau kamu merelakan diri, berharap mimpi indah datang memanipulasi kenyataan. Mengembalikan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Waktu.

Pagi hari saat kamu terbangun. Hanya tatapan kosong yang memancar dari sepasang matamu yang mencerminkan hati yang berlubang. Lubang yang kamu gali sendiri. Lubang yang tercipta karena ulahmu sendiri.

Air yang mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kamu berharap bisa menyegarkan raga, meskipun sebenarnya hanya tipu daya. Tetapi setidaknya, hanya sesaat, hanya sepersekian detik. Nyatanya, hanya harapan yang mengalir luruh bersama air melalui sela-sela di sudut lantai.

Pada akhirnya, saat kamu melihat bayanganmu di cermin, kamu tidak melihat dirimu sendiri. Kamu melihat sosok lain. Kamu melihat sisi gelapmu. Kamu melihat monster yang kamu harap tidak pernah menjadi bagian darimu. Kamu melihat dirimu yang berantakan dan memberantakkan.

Rasa sesal itu seperti laut, yang bisa sesekali pasang sesekali surut. Kadang tenang kadang gaduh. Dan hanya satu yang bisa kamu lakukan, belajar untuk tak tersedak di dalam setiap gelombangnya.

via Tumblr

Tahu apa hal yang lebih buruk yang bisa terjadi?
Tak ada yang bisa menyelamatkanmu.
Kamu bisa lari, kamu bisa sembunyi. Dari orang lain. Tetapi tidak dari dirimu sendiri.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari melihat orang yang kamu cintai sakit karena kebodohanmu sendiri. Kamu tidak bisa menemukan apa pun untuk disalahkan selain dirimu sendiri.
Dan pada akhirnya, yang terburuk dari semua ini adalah…
Kamu harus hidup dengan kenyataan itu.
Dirimu tak pernah kembali utuh. Dirinya mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu. Dan kamu semakin mengasah kemampuan terbaikmu, yaitu: menghancurkan setiap apa pun yang telah kamu bangun.

Karena menyakiti orang yang kamu sayangi lebih menyakitkan dari sakit.

Karena aku cinta kamu sampai segitunya

 

Tidak pernah ada yang berkata ini akan mudah.

Fighting for someone has never been easy. For me. For you. For us. Anyone.

Ketika kamu pikir ini adalah tentang berlari, pada akhirnya hanya akan ada lelah menghantui. Tidak ada yang bisa dipetik dari sesuatu yang terburu-buru. Karena, ini adalah tentang langkah demi langkah. Tidak tidak… lebih sedikit dari itu. Inci demi inci, yang di antara jaraknya terhampar bebatuan, yang di setiap detiknya dingin menyerang memilukan.

Sebelum berlayar, seringnya kita melupakan untuk melihat dari ketinggian. Mercusuar di ujung dermaga, memberikan gambaran jelas kapal-kapal yang karam karena ketidaksabaran. Kabut tebal di tengah samudera, mengelamkan segala yang terlihat di ujung mata. Desir ombak, tak sabar ingin menggulung tanpa kasihan.

Kadang kita lupa, ketika dihantam kenyataan, darah cinta mengalir dalam bentuk air mata dan doa. Namun ini bukan tentang berapa kali kita jatuh, bukan soal berapa kali kita saling menyakiti. Bukan pula tentang siapa yang menang antara ego atau kesalahan.

Ini soal waktu.

Kita hanya bisa melihat apa yang diajarkan hidup, jika kita memberikan waktu padanya, dan melewati segala pedihnya.

Seperti gurun tanpa ujung, namun ada keindahan langit penuh bintang di setiap malamnya. Seperti hujan tanpa reda, tetapi ada ketenangan dalam setiap rintiknya. Seperti dingin yang menusuk, ada hangat dalam temu, tawa, berbalut pelukan.

Kita hanya perlu melewatinya untuk tahu apa yang ada di baliknya.

Meski sama-sama penuh luka dan dengan tangan berlumur air mata, kita terpapah-papah melalui ini semua. Saling bopong melewati waktu. Dan ketika malam datang, langit semu bertanya padaku,

“Mengapa kamu berjalan sejauh ini?”

Tanpa jeda, dengan satu degup jantung, aku tahu apa alasanku sampai segininya.

Karena aku cinta kamu sampai segitunya.

Seseorang yang Bermata Teduh

tumblr_m850vrkYKu1r6f8ac

Kadang kita nggak sadar sudah menunggu selama apa untuk bertemu dengan orang yang tepat.

Aku nggak pernah mengerti gimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal-hal seperti itu bisa semudah berlempar senyum lalu melayangkan jabatan tangan kemudian bertukar nama. Ada juga yang nggak berdaya membendung cinta yang berhasil merangsek masuk ke dinding-dinding hati akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak sengaja dilakukan bersama. Bahkan ada yang bersusah payah untuk jatuh cinta dengan menunggu… entah berapa lama akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu cinta.

Tapi ada satu kesimpulan yang bisa ku ambil dari beberapa hal yang aku bingungkan tadi. Kesemuanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan butuh keadaan. Sayangnya, banyak pula cinta yang harus mati karena keadaan, yang sering menyamar dalam bentuk ‘kenyataan’, ‘keyakinan’, atau sekadar ‘pertemanan’.

Mungkin sama banyaknya dengan cinta yang harus mati karena keadaan, banyak juga cinta yang justru hidup karena keadaan. Jadi rasanya terlalu picik jika orang tak memberikan kesempatan untuk cinta yang baru saja lahir dan masih tumbuh. Membunuhnya dengan kata-kata “maaf, tapi menurut aku ini kecepetan” hanyalah akal-akalan mereka yang tak punya perasaan yang sama, hanya supaya nggak terlalu kelihatan berdosa.

Tapi percayalah, orang yang tepat itu akan datang.

Kadang sepasang orang membutuhkan terlalu lama waktu untuk menyadari bahwa sebenarnya yang mereka butuhkan sudah ada di depan mata. Hanya saja, mereka terlalu terfokus untuk mengejar yang diinginkan. Sama halnya seperti seorang anak. Seorang anak menyukai banyak hal. Mereka suka berlari, mereka suka melompat, bahkan mereka suka terbang. Itu semua yang mereka inginkan.

Namun ketika terantuk, terjatuh, bahkan terjerembab, siapa yang mereka butuhkan? Ibu, atau minimal sebuah pelukan. Anak-anak harus merasakan yang namanya terjatuh dulu, harus merasakan yang namanya luka dan menangis untuk bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah pelukan.

Begitu juga yang terjadi pada kebanyakan kita. Terlalu senang mengejar-ngejar yang diinginkan, sampai dibutakan mana yang sebenarnya dibutuhkan. Tapi itu tidaklah salah. Karena kalau nggak begitu, kita nggak akan merasakan luka, dan kita nggak tau sebagaimana menyembuhkannya ‘obat’. Kalau kita nggak pernah salah, kita nggak akan bisa bertemu orang yang tepat.

Padahal jika dilihat lebih tulus, semua yang dibutuhkan nggak begitu rumit. Kita pasti ingin bersama mereka yang selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi diri kita sendiri. Kita pasti ingin menghabiskan hari dengan orang yang cukup dengan menggenggam tangannya saja, kita merasa digdaya menghadapi dunia.


Kita pasti ingin hidup dengan seseorang yang cukup dengan menatap matanya saja sudah merasa seperti di rumah.

Kita hanya ingin terlelap di pelukan seseorang bermata teduh, yang melenyapkan segala jenuh, menggantikan semua peluh.


Pada akhirnya, kita hanya ingin terjatuh pada mereka yang meski sama penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan.

Semua Cowok Itu Brengsek

Guys, jaga kesehatan ya. Sekarang cuaca lagi gak menentu. Siangnya bisa panas, sorenya bisa hujan, dan malemnya bisa dingin, apalagi gak punya siapa pun buat dipeluk tengah malam.
So, siang menjelang sore tadi aku membahas topik yang sebenernya lumrah dan jadi persoalan pelik di dunia percintaan sejak dulu. Bahasan tentang kenapa cewek lebih suka cowok brengsek dibanding cowok baik.
FOTO: WEKNOWMEMES
Sebenernya permasalahan ini kalo dirunut akarnya bisa panjang banget. Liat aja gambar di atas. Rumit banget, gimana seorang cowok baik ngejar cewek cantik, terus cewek cantik ngejar cowok brengsek, kemudian cowok brengsek ngejar cewek seksi yang nakal, dan cewek nakal nguber-nguber cowok kaya. Dan yang menjadi ironi adalah ternyata seorang cowok baik yang diabaikan cewek cantik ternyata di-secret-admirer-in sama cewek pendiem.
Kali ini aku pengen membahas dari sisi “kenapa cewek cantik suka sama cowok brengsek”.
Cowok Badboy Itu Menarik
Iya, tentunya kalo nggak menarik, cewek-cewek gak akan mau deketin atau mancing diri buat dideketin. Apalagi kalo yang jadi badboy itu tukang becak, setiap hari pasti menarik tuh dia. Menarik becak.
Karena Cowok Baik Ngebosenin
Para cewek beranggapan cowok yang baik itu datar. Hidup bareng cowok baik itu gitu-gitu aja, nggak ada turunan atau tanjakan. Gak kayak sama badboy yang bikin deg-deg-ser penasaran tiap hari.
Naksir Badboy Banyak Saingan
Banyak cewek beranggapan badboy itu menarik buat mereka. Pastinya banyak juga yang ngincer buat bisa ngegebet badboy. Dan gimana rasanya ketika kamu yang dipilih untuk jadi gebetan? Pastinya bangga, menang di antara banyak cewek lainnya. Permasalahannya, kamu doang yang digebet apa bukan. :p
Ada Tantangan dan Kebanggaan Lain
Cewek suka sama badboy menurut gue adalah efek sinetron dan film-film. Mereka bermimpi bisa ngedapetin cowok yang brengsek, terus berharap cowok itu berubah jadi baik gara-gara dia. Mending kalo cowoknya jadi baik, lah kalo yang cewek ikut-ikutan brengsek, ya paling ujungnya mereka berdua brengsek-brengsekan.
Jadi, selain poin-poin di atas adalah alasan kenapa cewek-cewek pada demen sama badboy, menurut kesotoyan gue lagi cewek itu suka sama badboy sekadar suka dan pengen saat itu doang. Untuk ukuran mencari pasangan hidup (suami), pastilah cewek-cewek lebih memilih cowok baik.
Sekarang gue jadi tau kenapa cewek-cewek sering ngeluhin, “Kenapa sih semua cowok tuh sama aja?! Brengsek semua! Kalo gak brengsek, homo.” Ternyata jawaban dari pertanyaan mereka adalah, “Salah sendiri tertariknya sama yang brengsek terus. Kalo demen yang begitu, ya mesti siap.”
Buat cewek-cewek yang tertarik bahkan obsesi banget sama badboy, jangan ngeluh ya kalo disakitin dan nangis terus. Itu kan udah konsekuensi. Harus ngerti dong. Paling nanti kalo udah kenyang disakitin juga ujung-ujungnya nyari yang baik juga.
Dan seiring dengan fenomena cewek-cewek suka sama cowok brengsek, jangan salahin cowok pada jadi brengsek kalo cewek-cewek suka dan maunya sama cowok brengsek. Jangan kaget kalo suatu saat kata-kata cewek “Semua cowok itu brengsek” terwujud karena yang baik akhirnya memutuskan jadi brengsek biar disukain sama kamu.
Konklusi dari postingan ini adalah…
Se-badboy-badboy-nya cowok, semuanya kembali ke tampang.
…lalu mungkin bisa ditambah uang.
So, girls, jadi kamu lebih milih cowok brengsek, apa yang baik?

Kita yang Memperumit Masalah Sendiri

Aku sudah lengkap dengan jas hujan, bahkan celana jeans panjang sudah digulung. Langit sore waktu itu lebih kelabu dari pasangan LDR (Long Distance Relationship) yang udah kangen karena lama gak ketemu tapi pas ketemu malah diputusin. Aku melaju melanjutkan perjalanan sambil senyam-senyum karena kali ini mengalahkan siapnya seorang ojek payung dalam mengantisipasi terpaan air yang bakal turun dari langit.

Tujuh menit, 15 menit, setengah jam berlalu. Hujan tak kunjung datang. Aku sedikit manyun, kemudian menepi ke sebuah halte untuk melepas dan melipat jas hujan yang aku kenakan. Pada saat aku hendak memasukkan jas hujan yang sudah terlipat rapi ke bawah jok motor, terdengar dua remaja yang mengeluhkan cuaca hari itu. “Langitnya PHP nih,” ujar salah satu dari mereka.

“Dem. Gue kegeeran.” Perjalanan sore itu selanjutnya aku habiskan dengan berpikir. Coba kalau tadi aku nggak mengharapkan hujan. Coba kalau aku tadi nggak sotoy sama langit. Coba kalau tadi aku gak dengan cepat menyimpulkan bahwa mendung berarti akan turun hujan.

Hal seperti di atas memang kedengarannya rada-rada benar. Kita lebih suka menyalahkan keadaan yang memang nggak pasti, dibanding menyalahkan otak (atau mungkin hati) yang sotoy menyimpulkan yang pasti terjadi. Misalnya seperti ketika ada orang yang hadir dalam hidup kamu. Dia datang dengan segala kelengkapannya, mengisi kekosongan-kekosongan yang kebetulan kamu inginkan, selalu ada buat kamu, dan kebetulan pula teman-temanmu menyangka kalian sudah jadian. Namun semua fakta tadi tetap gak bisa buat menyimpulkan bahwa dia pasti suka sama kamu.

Pengharapan itu membebankan.

Ketika kamu berharap, kamu membebankan suatu hal yang tidak pasti pada hati. Dan tau apa yang terasa kalau itu tak terjadi? Kecewa hati.

Kadang menyimpulkan seperti tadi cuma penyangkalan diri aja. Sebenernya kamu yang suka dia, karena deket. Di sisi lain, kamu juga gak siap menerima fakta kalau perasaan kamu gak berbalas. Dari situ kamu menyangkal.

Kejadian kayak gini sih biasanya disebut PHP (Pemberian Harapan Palsu). Nah, coba dipikir lagi. Siapa yang sebenarnya melakukan PHP? Dia, atau diri kamu sendiri yang memberikan harapan pada hati dengan menerjemahkan kebaikan adalah harapan?

Anggap saja memang benar kamu nggak kegeeran, dan memang benar dia PHP. Kalo keadaannya seperti itu, emang apa yang bisa kamu lakukan? Minta kepastian? Atau langsung pergi sekalian? Tanya diri kamu kalimat ini, “Emang bisa? Emang berani?”

Sebenarnya dengan kamu berdiam diri, kamu udah mengizinkan dia dan diri kamu sendiri jadi PHP. Pemberi, dan Penikmat Harapan Palsu.

PHP itu emang jodoh banget sama yang diem dan gak berani ngambil sikap (entah itu nagih kepastian, atau pergi sekalian). Semakin kamu diam, semakin betah dia PHP.

Kita abaikan orang yang PHP, karena apa yang dilakukannya itu emang jahat buat kamu. Tapi yang perlu diperhatikan, kenapa kamu diem aja dijahatin? Banyak alasan yang dikeluarkan orang yang nggak mau nagih kepastian. Biasanya alasannya karena cewek, gengsi, malu, takut disangka kegeeran.

Sering kali, manusialah yang memperumit masalahnya sendiri.

Tinggal pilih, jadi korban PHP terus, nagih kepastian, atau pergi sekalian. Jangan salahin dia PHP terus kalo minta kepastian atau pergi sekalian aja gak berani.

Buat Para Calon MABA

“Yeah LULUS!”

“Corat-coret! Corat-coret!”

Mungkin itu kata-kata itu yang keluar saat kamu melihat pengumuman kelulusan dari sekolah, entah secara online, surat yang dikirim ke rumah, ataupun lewat desiran angin yang membisikkan kata “kamu lulus” kalau kamu memang sekolah di perguruan pendekar calon Avatar.

Tapi tahukah kamu?

Lulus bukanlah akhir, namun merupakan awal. Awal dari penderitaan. Huwahahahaha.

via giphy
via giphy

Karena ketika memasuki dunia perkuliahan, kamu akan menemukan banyak perubahan. Kamu akan mengalami culture shock karena perbedaan itu.

Beruntung kamu lagi buka blog ini. Kalian sebentar lagi akan segera mendapatkan pencerahan tentang gambaran apa saja perbedaan dunia kuliah dan dunia sekolah.

Langsung aja, check these out!

1. Corat-Coret

Hal pertama yang dilakukan anak sekolah setelah menerima pengumuman lulus adalah nyamperin orang tua terus cium tangan dan memeluknya lalu mencuci kaki ibu corat-coret. Kegiatan corat-coret ini menjadi agenda utama karena memang dari foto-foto dan cerita yang beredar di kalangan anak-anak yang udah duluan lulus, coret-coret sangat menyenangkan dan sarat makna.

Bayangkan saja, baju sekolah yang dulunya putih, kini dibuat menjadi colorful. Mungkin bagi beberapa orang yang addict terhadap online shop bakalan mencoret bajunya dengan motif tribal.

Semasa sekolah, yang dicoret adalah ini baju

gadis_sma_cantik_coret_seragam-615x350
via radarbolmong

Saat kuliah, kelak yang akan dicorat-coret adalah tugas dan skripsi

Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.
Ini skripsinya si @adhiefahmi. Keren ya? X-nya ada 2. Itu kalau dalam Romawi nilainya 20.

2. Perlengkapan

Sekolah

via pennyappeal
via pennyappeal

Kuliah

IMG_0165
Cuma ini. Itu juga hasil minjem, kagak dibalikin lagi.

3. Jam Bangun

Sekolah

Jam 6 pagi

shutterstock_107370656-wake-up-stretch
Credit: Shutterstock

Kuliah

Jam 11 siang

Credit: Disney
Credit: Disney

5. Berangkat

Sekolah

via Tumblr
via Tumblr

Kuliah

via giphy
via giphy

6. Ngerjain Tugas

Sekolah

homework

Kuliah

via kopernik.ngo
via kopernik.ngo

ujung-ujungnya…

f320eb73be76285500464a4ebfd22f49

7. Di Kelas

Sekolah

via wolfvsgoat.com
via wolfvsgoat.com

Kuliah

Credit: Bloomberg
Credit: Bloomberg

 8. Pacaran

Sekolah

Cukup jadi anak basket/futsal, punya motor, makan mie ayam bareng + bercanda, langsung jadian.

Kuliah

Udah UKM basket/futsal, udah punya motor, bahkan udah kerja, ngajak makan + nonton, bercanda juga udah. Tapi tetep jomblo juga.

Credit: Cartoon Network
Credit: Cartoon Network

Sebuah Balasan

Foto: spesial

Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ’emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.

Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.

Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.

“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”

“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”

“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”

“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”

“Mengapa dia menyanyikan lagu favoritku di lorong kelas tadi?”

“Ah, bagaimana bisa dia bercerita ke temannya baru saja menonton film yang sudah berkali-kali aku tonton karena aku sungguh menyukainya?”

“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”

Foto: spesial

Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.

Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.

Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

Berbicara Sendiri

Foto: Jessie Leong (flickr)

Aku berdiri di depan kaca. Samar-samar bertatapan dengan bayanganku di sana. Sesekali aku menampar pipiku sendiri, berusaha menyadarkan diri, atau sekadar berusaha  memastikan apa yang sedang aku alami bukanlah mimpi.

Aku ingat betul bagaimana 300 orang bangsa Sparta menaklukkan ribuan pasukan Persia. Scene bagaimana Frodo Baggins menaklukkan Mordor masih terpatri jelas di memori. Atau cerita selucu Hiccup menjinakkan Night Fury pun bisa dengan dengan lancar aku kisahkan. Namun ini bukan tentang sebuah kolosal, hal-hal berbau legenda, ataupun cerita tentang naga. Ini adalah sesuatu yang lebih nyata. Tentang aku melawan diriku sendiri. Bagaimana aku meruntuhkan ego, menumbangkan prasangka, dan berusaha menundukkan harapan-harapan dalam diri sendiri.

Aku masih melihat sosok di depan kaca. Kali ini, sesekali mengernyitkan dahi. Nggak habis pikir apa yang sedang aku pikirkan. Ada kekalutan yang aku rasakan.

Aku nggak suka jatuh cinta.

Jatuh cinta membuatku menganggap sesuatu yang mungkin aja bukan buat aku, adalah buat aku. Begitu melelahkan menebak-nebak sesuatu yang ingin sekali dipastikan, namun nggak cukup punya ruang untuk memastikan.

Jatuh cinta membuatku seringkali melakukan apa yang seharusnya nggak aku lakukan. Perbuatan-perbuatan bodoh, yang sok-sokan spontanitas, tapi seringnya merusak keadaan.

Jatuh cinta membuat aku berkali-kali melakukan hal di luar akal sehat. Sesuatu yang tadinya nggak pernah terpikirkan untuk bisa aku lakukan. Jadi orang nekat. Jadi orang gila. Kehilangan logika.

Tapi aku adalah laki-laki. Aku harus tetap menggunakan logika.

Kadang cara terbaik untuk menghindari sakit hati,… adalah dengan menyakiti hati itu duluan, oleh diri sendiri. Cara terbaik untuk terbebas dari kekecewaan,… adalah dengan membunuh harapan-harapan dalam diri dengan tangan sendiri. Cara terbaik untuk bisa tetap waras,… adalah dengan berusaha mendamaikan logika dan hati.

Di sisi lain, Aku nggak cukup tega untuk melakukan itu semua. Dan mendamaikan logika dengan hati? Bukan perkara mudah.

Pada akhirnya, aku coba berteriak tapi tak terdengar, berbisik tapi tak lirih, dan bergeming tapi terlalu gaduh. Pada diri sendiri. Cuma berusaha mengendalikan apa yang menjadi asumsi, memberikan sugesti, dengan mengatakan,

Bahwa kamu sedang tidak berusaha membuat orang lain menjadi kekasihmu, ataupun mau untuk hidup bersamamu. Mau atau tidaknya dia untuk sama kamu? Itu belakangan. Kamu cukup hanya mencoba membuatnya jatuh cinta. Kamu cuma bisa berusaha menjadi tempat yang nyaman, tempat bersandar, yang tetap menjadi dirimu sendiri, bukan orang lain. Kali ini, kamu sedang berusaha membuatnya jatuh cinta. Dan jika ternyata dia sudah jatuh cinta? TERUSLAH BUAT DIA JATUH CINTA LAGI! JANGAN BERHENTI. Dan apabila dia bersama yang lain bukan sama kamu, ITU BUKAN BERARTI SEBUAH AKHIR! JANGAN BERHENTIPerjuangan kali ini berbeda. Ini semua bukan cuma tentang siapa yang terbaik, bukan pula tentang siapa yang paling menjanjikan. Tapi ini semua tentang siapa yang paling tulus, dan tidak menyerah meski terlihat bodoh.

Aku menampar diriku sekali lagi. Memejamkan mata. Nggak ada lagi sosok angkuh, pesimis, optimis, ataupun realistis. Cuma sesosok manusia yang akan berusaha melakukan apa pun setulusnya.

Good thing comes to those who wait, then better thing comes to those who chase it, and the best thing comes to those who fight for it.

Semoga.

Cerita Singkat

Iya, emang cowok selalu salah. Terus kalo salah, bisanya cuma minta maap. Ya gitulah. Cowok kalo salah, terus minta maaf, tetep salah. #kitaselalusalah

Banyak sekali hal-hal menarik yang aku temui belakangan ini. Semua kejadian, yang berhasil aku lewatin dengan baik aku jadikan catatan buat menghadapi kejadian-kejadian berikutnya. Kejadian lainnya, yang nggak aku lewati dengan baik, aku jadikan pelajaran.

Biasanya, orang yang mengalami kegagalan, akan mengada-adakan hikmah. Kadang aku berpikir, apa benar di balik semua kejadian ada hikmahnya atau memang hikmah itu ada karena diada-adakan.

Tapi bagaimana pun itu, aku rasa yang namanya “hikmah” –baik itu memang ada atau cuma diada-ada– datang untuk membuat mereka yang gagal tetap hidup. Setidaknya hikmah jadi alasan supaya tetap berjuang. Dan aku pengen ngasih beberapa hikmah yang aku dapet dari beberapa kejadian yang aku alami belakangan ini:
Cinta nggak boleh terlambat, tapi semua lebih buruk jika diungkapkan terlalu cepat.
Nggak ada yang tau kapan cinta akan datang. Bahkan seringnya ada rasa-rasa yang menyamar dan memberi kenyamanan seperti cinta, padahal bukan cinta. Kenyamanan ketika berdua, kenyamanan melihatnya dari kejauhan, kenyamanan bahkan dengan cukup membayangkannya saja. Itu mungkin aja cuma sebuah rasa nyaman belaka, mungkin juga kagum, atau penasaran.

Yang aku pahami sekarang adalah, untuk sebuah cinta momen saja nggak cukup. Dibutuhkan keberanian, dan yang paling penting kebijaksanaan dalam menunggu, bersabar, dan bertindak sesuai waktu yang tepat. Di sini yang paling sulit. Tapi percaya saja, dengan adanya proses, kita bisa tau kapan waktu yang tepat. Dan itu akan datang. Pasti.

Jangan sampai kamu bilang mencintai tapi ketika berhasil mendapatkan semuanya malah hilang. Lebih baik jatuh cinta terlebih dahulu pada setiap momen, meski kecil dan sepele, kadang justru itu sangat berarti. Biarkan cinta itu memenuhi sedikit demi sedikit ruang hati, sampai kamu tak bisa menahannya lagi. Setelah itu, ledakkan dengan kata-kata yang indah, dan yang terpenting tulus dari lubuk hati.
Cinta bisa saja buta, tapi terlebih dari itu, cinta itu bijak.
Setiap orang punya kriteria pasangan ideal masing-masing. Tapi kita nggak pernah tau kepada siapa hati kita akan terjatuh. Kamu juga mungkin pernah memaksa-maksakan perasaan. Kamu melihat sosok yang indah, yang bercahaya, lalu mengejarnya. Sampai akhirnya menyadari apa yang kamu cari itu di luar jangkauan.

Mungkin kita hanya kurang bersyukur.

Ternyata cinta bisa datang dari mana saja. Selama ini kamu mengejar yang kamu cari. Akan tetapi, mungkin saja yang kamu butuhkan sebenarnya tepat berada di dekat kamu. Yang dengan segala kekurangannya, meski fisiknya gak sesuai kriteria idaman, tetap bisa memberikan kenyamanan. Yang selama ini ada ketika kamu sendiri, yang paling nyambung berbicara dari hati ke hati, yang paling mengerti dan memahami. Yang seperti itu, kelak akan ‘membutakan’ mata tapi juga ‘membukakan’ hati. Bahwa orang-orang seperti merekalah yang tepat, pantas, dan paling dibutuhkan hati.

Karena aku selalu percaya, orang yang paling layak jadi pendamping hidupmu adalah yang paling bisa kamu terima kekurangannya dan dia paling bisa menerima kekuranganmu. Kelebihan, hampir semua orang bisa menerima. Tapi kekurangan, belum tentu.
Masih ada sahabat.
Seburuk apa pun kejadian yang menimpa kamu, percayalah selalu ada sahabat yang mau menemani.
Terima kasih buat para sahabat aku, yang mau nemenin aku melampiaskan semua penat dalam hidup melalui bola voli, melalui kompetisi game bola di laptop, atau sekadar obrolan-obrolan cengengesan di kedai makan di pinggiran jalan.

Berbagi kisah dengan kalian selalu jadi salah satu hal paling menakjubkan.

Topeng Bernama Alasan

Foto: weheartit.com

Manusia itu suka mencari-cari. Mencari uang, mencari ilmu, mencari pacar, sampai mencari kepastian. Yang pasti semuanya berakar dari mencari kebahagiaan, dan rasa aman. Makanya nggak heran juga orang mencari-cari suatu hal yang mereka gunakan sebagai topeng yang memberikan mereka rasa aman (walau semu), yaitu alasan.


Misalnya orang yang sedang jatuh cinta. Ketika ditanya oleh orang yang dia suka, “Kenapa sih kamu suka sama aku?” Banyak yang mencoba menjawab dengan berbagai alasan, karena dia menenangkan, karena dia cantik, karena dia baik, karena dia selalu ada. Ada juga beberapa di antara mereka yang menjawab cukup dengan, “Jatuh cinta itu nggak perlu beralasan.”

Satu hal yang aku percaya dari hal di atas adalah kedua-duanya itu cuma kedok. Ya, dalam wujud alasan.
Bahkan cinta yang tanpa alasan pun sebenarnya sudah merupakan suatu alasan.
Sederhananya, orang yang benar-benar sedang jatuh cinta, nggak akan tahu benar apa yang menyebabkan dia jatuh cinta. Dia cuma merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Bahkan dalam beberapa kasus aku ketika jatuh cinta, aku malah merasakan pterodactyl beterbangan di perut aku. Dan aku pun menjadikan itu alasan kenapa sekarang perut aku membuncit.

Mereka memang nggak tahu benar apa alasannya. Oleh karena itu, mereka mengada-adakan alasan cuma biar semuanya terdengar baik-baik saja, semuanya terdengar romantis. Padahal jauh di dalam benaknya, mereka bertanya-tanya, “Kapan tepatnya cinta ini datang?” Jawabannya: nggak tahu. Jadi pertanyaan itu memang bukan untuk dijawab.
Karena cinta bukan pertanyaan dan nggak harus dipertanyakan.
Cukup berikan waktu dan kesempatan, biarkan waktu membuktikan dengan segala tindakan.
Sama halnya dengan cinta yang datang tanpa diketahui, begitu juga dengan cinta yang nggak berbalas. Mereka yang cintanya nggak mendapatkan balasan nggak tahu benar gimana mereka nggak mendapatkan balasan atas cintanya. Apakah orang yang disuka itu sempat suka juga lalu ilfeel, apakah orang yang disuka itu sempat suka tapi lalu menemukan yang lebih dia sukai di sokok orang lain, atau apakah orang itu nggak pernah suka sama sekali? Kamu nggak tau jawabannya. Kamu cuma mencari-cari. Kamu kepo, stalking, kemudian menebak-nebak apa sebenarnya alasan dia.
Sama seperti kamu menebak-nebak, kamu juga akhirnya mencari-cari. Mencari-cari alasan apa yang tepat ketika ada orang yang nanya ke kamu, “Kamu gimana sama dia? Udah jadian?” atau, “Kalian deket banget, jadian yaaa?”

Biasanya kalimat-kalimat di atas dijawab dengan getir, “Nggak. Kita cuma temen tau,” seraya melayangkan senyum palsu.

‘Bukan siapa-siapanya dia’ seringkali jadi momok menakutkan bagi mereka yang lagi jatuh cinta untuk mengartikan kode-kode yang ditangkap. Karena terlalu takut itu, akhirnya mereka pun terus memendam, dan beneran jadi bukan siapa-siapanya dia.

Biasanya juga, orang yang terlalu jatuh cinta tapi terlalu takut untuk mengungkapkan karena terlalu takut merusak kedeketan, akan punya topeng dalam wujud beribu alasan untuk membenarkan tindakan.

Mau sampai alasan keberapa kamu seperti ini? Membiarkan rasa yang muncul itu diam dalam kebinasaan.
Karena cinta kamu semu jika tidak dinyatakan.

Keadaan yang Serba Salah

Foto: Tumblr

Kadang manusia dihadapkan sama keadaan yang kalo dilanjutin salah, ditinggalin juga salah. Posisi ini, kalo di film Dono (sebenernya film Warkop DKI, tapi tetep aja disebutnya film Dono), namanya maju kena-mundur kena.

Kamu juga merasa tersesat. Kamu berjalan, mencoba keluar, tapi berakhir di situ-situ aja. Lubang hitam. Menyedot semua energi cuma buat mikirin harus dilanjutin apa nggak.

Ternyata, yang seperti itu bukan cuma ada di film Warkop. Dalam kehidupan sehari-hari juga seringkali kita menemukan posisi serba salah. Pokoknya bingung harus ngapain.

Misalnya, ketika ada di posisi mencintai orang yang sebenarnya udah dimiliki orang lain. Kamu senang dengan segala perhatian yang ada, dengan keadaan yang ada. Tapi di sisi lain, kamu nggak suka karena kamu nggak tau kamu itu apa, siapanya dia. Kamu bukan pacarnya, dibilang selingkuhannya juga belum, tapi dia yang berpacar begitu perhatian. Mau dilanjutin, dia pun nggak bisa putus sama pacarnya, mau mundur, tapi perhatian darinya begitu candu.

Keadaan yang lebih kompleks, ketika kamu sudah punya kekasih. Sudah lama, bahkan terlalu lama. Bertahun-tahun bersama. Tapi ketika dilihat lagi, ternyata ada unsur terpaksa dalam kebersamaan itu. Pernah salah satu atau kalian berdua, merasa sudah di titik jenuh, atau bahkan pernah terlibat di pertengkaran besar, seakan semuanya memang harus berakhir. Tapi kalian memutuskan untuk melanjutkannya, bersama. Sayangnya, bukan karena masih saling cinta, ataupun masih bisa saling percaya, tapi cuma sayang karena hubungannya sudah terlanjur lama. Biasanya juga, terkait sama saling kenalnya kedua pihak orang tua. Sekali lagi, ini terpaksa. Mau disudahi, sayang sekali hubungannya udah lama. Mau dilanjutin pun semuanya nggak lagi sama.

Gengsi juga, seringnya jadi momok yang membuat seseorang stuck berada di posisi yang serba salah. Ketika dua orang sudah menyatakan saling suka, saling perhatian, saling mengingatkan, saling ada satu sama lain, tapi nggak ada yang memulai. Ya, karena gengsi. Serba salah. Nggak ada yang mau mengalah.

Keadaan lainnya bisa sesederhana ketika jatuh cinta kepada sahabat sendiri. Pertemanan yang begitu lama dijalin. Seperti kata di televisi dan di film-film, Kita nggak bisa memilih jatuh cinta kepada siapa. Karena jatuh cinta nggak bisa memilih,

Kadang kita merasa nggak punya pilihan dalam urusan cinta.

Mungkin itu juga alasan kenapa orang-orang yang terlibat dalam jatuh cinta kepada sahabat, tetap berada di tengah. Nggak mundur, maju pun enggan. Yang ada, “mundur” itu cuma kata-kata yang kadang tercetus, tapi besoknya lupa lagi. Ngarep lagi. Nggak sadar diri lagi. Bahwasanya, dirinya hanyalah teman.

Tapi sebenarnya pilihan itu ada, kalau kita dalam keadaan jernih untuk melihatnya.

Ketika sedang berada dalam posisi yang begitu serba salah, kadang yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti, dan bernapas. Nggak perlu banyak berpikir, karena seringkali berpikir cuma hanya menghasilkan bad mood sendiri.

Cukup dengarkan apa yang ada dalam hati. Melihat ke dalam diri. Pejamkan mata. Tarik napas lewat hidung. Hembuskan lewat mulut.

Foto: stupidbear.buzznet.com


Foto: weheartit.com


Setidaknya, itu yang selalu sukses menenangkanku. Dan sedikit-banyak memengaruhi bijaknya diri dalam mengambil keputusan.

Karena cuma kamu yang bisa nentuin nasib kamu gimana. Orang lain terlalu sibuk ngurusin diri mereka masing-masing. Jangan mau berada di satu titik yang ngasih kamu kenyamanan semu. Misalnya ada di kondisi ngarepin orang yang nggak peduli sama kamu. Orang yang tiba-tiba ada, tiba-tiba ngilang, tiba-tiba ada, tiba-tiba ngilang.

Dalam hidup, kita harus mengambil keputusan. Tegaslah. Minimal kepada diri sendiri.

Jadi, semoga abis baca postingan ini kamu bisa keluar dari ‘lubang hitam’ yang sekarang lagi berusaha menyedot semua energi kamu ya.

Pesan Tentang Sebuah Keadaan

Bukan sebuah heran, angin laut sore menyejukkan. Bukan mimpi, gemuruh ombaknya terdengar bermelodi. Bukan rahasia, semua terasa seperti itu ketika jatuh cinta. Dan bukanlah keadaan, jika tak bisa membuat yang indah menjadi ketakutan.

Kata orang, cinta sesuatu yang megah. Namun kadang megahnya tertutup keadaan kemudian kalah.

Keadaan di mana pada diri satu orang, atau keduanya terdapat cinta tapi masing-masing atau salah satunya sudah memiliki pasangan. Keadaan di mana dua orang saling sayang, tapi orang tua berkehendak lain. Keadaan di mana dua orang saling cinta, tapi berbeda Tuhan –yang katanya satu–. 

Keadaan di mana seseorang jatuh cinta, tetapi yang satunya terasa terlalu sempurna untuk dia. 

Mungkin masih banyak lagi keadaan-keadaan di luar sana yang menyisakan kepahitan.

Mengapa seringkali sebuah cinta tumbuh di keadaan yang tidak memungkinkan? Apakah sebuah cinta adalah tumbuhan yang tidak peduli habitatnya berkeadaan seperti apa, hanya membutuhkan ketulusan? Akan tetapi, apakah ketulusan saja cukup untuk bersama? Tidak, untuk bersama, juga butuh keadaan.

Begitu pula dengan keputusanku memendam perasaan. Ini semua, sedikit banyak karena keadaan. 

Apa yang tumbuh dalam hati seiring aku memandang senyummu, melihat tawamu, menatap binar matamu, harus aku pendam sendiri.

Selagi menunggu keadaan –yang mungkin tak akan datang–, aku guratkan tinta hati hingga senja menjelang. Aku kemas surat itu dalam beningnya botol ketulusan, dan membiarkannya bebas di luasnya lautan kemungkinan.

“Jika memang jodoh, kita pasti akan bersama.” Ah, akhirnya aku mengatakan itu. Mengatakan kalimat bagi orang yang kalah dalam perjuangan mendapatkan seorang pujaan.

Aku tak ingin menjadikan keadaan sebagai pesakitan. Karena sudah terlalu sering kata itu berlalu-lalang di kisah kehidupan. Kamu boleh caci aku karena mengungkapkan rasa pun tak berani. Tapi mungkin kamu juga tahu, bahwa kadang melawan keadaan tak semudah yang pernah ada dalam mimpi.

Dan biarkan pesan dalam botol ini, tetap menjadi rahasia hati.

Mengapa Begini?!

Kadang, hidup ini bukanlah siklus, tapi lebih mirip lingkaran setan. Ke mana pun kita pergi, ujungnya selalu sama… yaitu tak berujung.

Semuanya membuat kita lelah.

Via @bringaspizza

Anehnya, ketika berusaha untuk keluar dari kondisi itu, malah terbentur tembok lainnya. Seolah-olah benang yang kusut itu sudah terlanjur ditarik dan simpul-simpulnya merapat, mengecil, lalu menguat.

Disney via Tumblr

Seperti itulah rasanya jika semuanya selalu begini. Sehingga yang kita pengen cuma teriak dan bertanya kepada hidup.
MENGAPA BEGINI?!
Ketika jomblo

“Yeah! Jomblo itu bebas!”

“Haha! Rasain lo yang punya pacar, mau maen aja ribet mesti izin dulu. Lagi maen mesti laporan mulu!”

Pada akhirnya itu cuma jadi bom waktu yang membuat harus menelan ludahnya sendiri. Bom waktu yang detiknya terus berdetak. Biasanya waktu sudden death ditandai dengan mulai penuhnya notifikasi Facebook dan Path dengan undangan pernikahan teman-teman.

Awalnya enak jomblo bisa seru-seruan, ke mana-mana bebas, lalu tiba waktunya pulang, kamu berbaring di tempat tidur dan berusaha untuk pergi ke alam mimpi. Di masa transisi dari dunia nyata ke dunia mimpi inilah semuanya terjadi. Semua kesepian itu.

Via weheartit
Lagi enak-enak jomblo, kenapa sih ujungnya harus ngerasa kesepian juga?
MENGAPA BEGINI?!
Ketika akhirnya menemukan yang disuka

Via shutterstock

Hati dag dig dug nggak karuan. Bawaannya pengen senyum seharian. Semua apa pun tentang dia di cari tahu, tapi isi perasaannya nggak tahu.

Sampai akhirnya datang suatu siang. Kenyataan yang mendadak terungkap tanpa bilang-bilang. 
Ternyata, dia bukannya gak pekain kode kamu. Tapi memang sejak awal dia nggak suka sama kamu.

Sekalinya mau keluar dari kejombloan dan nemu yang pas di hati, dianya gak punya rasa sama sekali.
MENGAPA BEGINI?!
Ketika menemukan yang suka juga sama kita

Awalnya stalking-stalkingan, terus sampe berhasil kenalan, beralih ke chat-chatan, terus jalan-jalanan. Tapi abis itu bukannya jadian, eh malah dapet labrakan. Ternyata si inceran kamu udah punya pacar duluan. 

Via weheartit

Kadang juga begini. Kalian punya rasa yang sama, tapi cara ibadahnya berbeda.

MENGAPA BEGINI?!
Ketika akhirnya punya pacar

Dari gebetan akhirnya berhasil jadian. Udah banyak yang dikorbankan. Tapi rencana untuk tetap sejalan tinggalah harapan. Tidak adanya restu membuat masa depan bersamanya tinggallah kenangan.

Lalu putus, jomblo lagi, kembali ke poin paling atas

Hidup kadang seperti lingkaran setan.

Punya pacar diputusin, naksir orang dianya udah ada yang punya, naksir yang nggak punya pacar dianya malah naksir orang lain, sama-sama naksir malah beda agama, naksir yang seagama gak direstuin.
Lingkaran setan itu cuma bisa terhenti (atau senggaknya, jadi gak kerasa) dengan bersyukur.
Tapi tetap, pertanyaannya adalah…



MENGAPA BEGINI?!

Via Tumblr

Kenapa Cowok Selalu Salah?


via Tumblr

Di luar hujan.

Siapa yang nggak suka musim hujan? Bau petrikor yang menguap dari tanah basah, sungai cemas yang mengalir menyusuri kaca jendela, alunan rindu setiap kali air beradu dengan genting.

Aku pun teringat akan satu sosok yang sungguh sempurna untuk menemani aku di saat-saat seperti ini…

Mi instan. Kuah. Pake irisan cabe. Pake telor.

Uhhh~

Memang waktu musim hujan gini, kita jadi mendadak hobi duduk di deket jendela, mendadak jadi puitis, dan berkontemplasi memikirkan banyak hal filosofis dalam hidup.

Sama halnya seperti aku saat ini. Tiba-tiba saja melintas sebuah pertanyaan maha-dahsyat yang rasanya butuh puluhan kali patah hati dan ratusan kepahitan hidup untuk bisa menjawabnya. Sungguh pertanyaan yang sangat dalam.
“Kenapa cowok selalu salah?”
Dalam renungan sembari menatap jendela yang basah tanpa ditemani oleh mi instan kuah, akhirnya aku menemukan jawaban dari pertanyaan legendaris itu.

rain-20

Sebuah hubungan yang kandas, kedekatan yang tak sampai, hingga cinta yang tak terungkap. Semua kegagalan hubungan rumit antara dua manusia yang melibatkan cowok di dalamnya, seringkali disebabkan oleh kesalahan cowok.

Bahkan ketika nggak sampai tahap hancur dan gagal pun, banyak pertengkaran, atau segala yang menjadi penyebab jungkir baliknya mood, adalah kesalahan cowok.

Mungkin kami pernah mengeluhkan kenapa sih cewek terlalu sensitif?

Namun setelah melewati pertengkaran dengan pikiran sendiri dan bisa menggunakan akal dengan tenang kembali, kami sering mendapatkan kesimpulan yang justru melawan pihak kami sendiri, “Aku bego banget sih! Salah lagi salah lagi!”

Bahkan tak jarang rasanya kami ingin memukul kepala sendiri, atau sekadar meninju tembok terdekat sejangkauan kepalan tangan.

Sialnya, tak lama setelah berdamai kembali, kami sering mengulanginya kembali. Bebal sekali.

15284-rain-anime

Ah, cowok memang selalu salah.

Lalu, kenapa sih?

Jawabannya adalah, karena cowok ditakdirkan harus selalu salah. Kenapa?

Karena cewek adalah calon ibu

anime-disney-disney-movies-film-gif-hayao-miyazaki-japan-japanese-movie-movies-my-neighbor-totoro-rain-totoro-hayao-miyazaki-movies-Favim.com-793446

Cowok ditakdirkan selalu salah karena itulah cara hidup untuk mengajarkan tentang arti menjadi ibu bagi cewek. Ibu identik dengan kasih sayang, sabar, dan ngemong.

Aku peringatkan kepada para calon ibu di luar sana. Kamu akan banyak, banyak sekali menemukan kesalahan menjengkelkan dari orang-orang yang justru kamu sayangi, sehingga meruntuhkan utopia yang selama ini kamu anut karena film-film dan drama-drama romantis:
“Bukankah orang yang kita sayang harusnya sempurna?”
Justru sebaliknya. Orang yang paling kamu sayang adalah orang paling berkekurangan. Karena sayang, artinya memperlihatkan segala kekurangan, menyerahkannya untuk diperbaiki bersama, bukan sekadar dimaklumi.

Bersyukurlah ketika orang yang kamu sayang berkali-kali menunjukkan kekurangannya melalui kesalahan, itu artinya kamu bukanlah orang asing. Karena seseorang hanya ingin terlihat sempurna di depan orang yang nggak dikenalinya.

Mungkin ini terlalu mengawang, tapi bagi aku, ada benarnya. Cewek harus menghadapi cowok yang selalu salah karena kelak, cewek akan menjadi ibu dan menghadapi anak –mau anaknya cewek ataupun cowok– pasti akan sering salah, dan nggak jarang membuat jengkel. Dan untuk menjadi ibu yang baik, sekaranglah waktu yang tepat untuk berlatih.

Lalu, kenapa cowok itu bebal sering mengulang kesalahan?

tumblr_nrg45xInAC1s3mwhto1_500

Karena cowok haruslah bebal.

Cowok punya hati yang keras. Kata ayah, cowok harus begitu. Kompensasi dari memiliki hati yang keras adalah… kadang kami terlihat bodoh. Sejak kecil, kami diberi tahu untuk nggak naik pohon, tapi kami tetap memanjatnya. Lalu jatuh. Lalu memanjat lagi. Lalu jatuh lagi. Kami belum berhenti jika kami belum kena batunya.

Tapi dari kebebalan itu, kami belajar banyak hal. Kami jadi tahu bahwa cowok harus berani mengambil risiko. Lebih dari itu, kami belajar bahwa cowok harus bertanggung jawab atas pilihannya, menanggung apa yang menjadi akibat dari perbuatannya.

Kami mendapatkan banyak pelajaran yang kelak akan menjadi kompas sekaligus senjata kami menghadapi hidup, dan menjadi pemimpin. Sekarang, aku jadi paham kenapa setiap ayah di dunia ini nggak pernah berhenti ceramah, nggak pernah berhenti mewanti-wanti, mengulang-ulang cerita kelam masa mudanya meski cuma hanya lewat telinga anaknya. Semua itu dilakukan semata karena sang ayah nggak mau anaknya mengalami kesalahan seperti ayah.

Namun yang perlu diingat, meski seorang anak cowok nggak mengulangi kesalahan ayahnya, ia akan tetap salah. Ia akan melakukan kesalahan yang lain, dan belajar dari itu.

Kalau begitu, berarti cowok bebas dong ngulangin kesalahannya?

Kadang, kami harus melakukan kesalahan berkali-kali untuk benar-benar mengerti. Namun aku percaya,
Seorang cowok sejati nggak akan membiarkan seseorang yang disayanginya merasa sakit.
Cowok sejati akan belajar dari kesalahannya, sampai ia layak menjadi pria.

tumblr_nx5g19A0YF1u0ynoyo1_500

Hujan, turunlah dengan wajar, supaya kami selalu bisa belajar.

Karena hanya setiap kali engkau turun, kami dapat mendengar nada yang mengalun.

Nada yang bermuara dalam pikiran, tentang kehidupan dan kesalahan.

Hujan, turunlah dengan hakiki, agar kami dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Turn Over To You




Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.
Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.
Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang.
Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya.

Aku lebih percaya kepada hidup.
Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur.
Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.
Kita, makhluk yang tak pandai membaca.

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta.
Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada.
Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.
Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

Tapi maaf, aku tidak bisa.
Aku tidak bisa untuk tidak menghidupi mimpiku.
Aku tidak bisa untuk merelakan seseorang yang tak tergantikan.
Aku tidak sanggup bila itu bukan kamu.

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.
Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.
Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”.
Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi bersama kamu.
Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam.
Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.
Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi.

Mimpi yang pernah aku rusak sendiri.
Tetapi seperti yang selalu hidup ajarkan kepada aku, aku harus memperbaiki semuanya sendiri.
Itulah mengapa, aku memutuskan untuk tidak menyerah atas kamu.
Aku memilih untuk tidak merelakan kamu.

Jika aku ikut percaya seperti orang lain bahwa cinta tak harus memiliki,
Mungkin kini kita tak bersama lagi.
Bersyukur aku kembali padamu,
Sehingga kini aku bisa mewujudkan separuh mimpiku.

Terima kasih telah menjadi rumah melalui tatapan lembut itu.
Terima kasih telah menjadi selimut melalui dekap hangat itu.
Terima kasih telah menjadi separuh mimpiku.
Terima kasih telah menjadi sekarangku.

Sekarang, genggam tanganku.
Tidak akan pernah aku lepaskanmu.
Temani aku mewujudkan separuh lagi mimpiku.
Menghabiskan sisa hidupku, bersamamu.

Semuanya baik-baik saja, P.
Karena aku dan kamu, telah kembali menjadi kita.